Ibu Berhak Bahagia

Kamu Seorang Ibu … dan Berhak Berbahagia!

Sebuah kondisi yang bisa dikatakan menyenangkan, tapi rawan serangan emosi menguras jiwa adalah hari di mana kita akhirnya bertemu dengan sang buah hati untuk pertama kalinya.


Hamil dengan segala ujiannya, berharap berakhir indah ketika 'buntelan' makhluk hidup yang tadinya dibawa ke mana-mana, akhirnya terlahir ke dunia. Yang sebenarnya terjadi adalah, ketika bayi lahir, maka itu adalah awal mula petualangan seorang ibu. Awal mulai duduk di kursi roller coaster yang siap membawa kita melambung tinggi dan menurun dengan cepat, tanpa sempat bertanya apakah kamu siap??? Karena seyogianya sembilan bulan sebelumnya adalah masa yang tepat untuk mengisi pundi ilmu menghadapi masa kelahiran.



Pagiku bermula dengan campur aduk formula langka nan tak terlupakan. Bau pup bayi, minyak telon, FreshCare, plus bau asem bayi yang akhir-akhir ini menjadi aroma terapi tersendiri buatku. Sudah berhari-hari aku begadang, kebiasaanku mengoles FreshCare untuk meredam nyeri otot, yang mulai terasa permanen di sekitar punggung dan leher belakang.


Aku memandangi dua bocah yang masih terlelap di samping kiri dan kanan. Hanya ada kami bertiga di dalam ruangan kamar 3x4 ini. Suamiku yang berprofesi sebagai surveyor kapal sudah seminggu tidak pulang dari lapangan. Selama dua pekan dalam sebulan beliau harus turun ke lapangan yang jarak lokasinya jauh dari rumah kami, sehingga mengharuskannya untuk menginap di mes. Dingin AC berpadu dengan subuh yang sejuk terasa menusuk tulang. Pelan aku beringsut meraih remote AC dan mematikannya.


Pagiku kumulai dengan helaan nafas panjang dan mata berkaca-kaca. 


Aku menangisi semua kekuranganku. Kupandangi dua malaikat kecilku. Kemarin aku meneriaki kakak yang masih berumur 3 tahun setengah karena menumpahkan minuman di lantai dan makannya yang lama sekali. Tiba-tiba rewel minta disuapi, padahal sebelumnya dia bisa makan sendiri. Lalu si kecil yang masih 5 bulan, kubiarkan tertinggal di tempat tidur menangis meraung-raung, tiba-tiba aku ingin membungkam mulutnya dengan kain, tisu atau apa saja, yang penting tangisannya tidak terdengar lagi. Peristiwa kemarin bukan kali pertama, tapi sudah berkali-kali terjadi, dan akhirnya aku sampai pada melabeli diri, aku tidak waras.


Teringat ketika masa gadis dahulu, aku menyukai anak-anak. Bahkan aku rela mengunjungi daerah pesisir dan daerah tergolong marginal lainnya untuk mengajari anak-anak mereka membaca atau sekedar bercengkerama dengan mereka. Kala itu, aku merasa seperti berwisata dengan hati, ada kepuasan tersendiri ketika melihat mereka tersenyum, dan itu seperti candu buatku. Tak bosan-bosannya aku mengunjungi mereka tiap pekan yang seharusnya bisa aku manfaatkan sebagai waktu libur dari tugas kuliah yang menumpuk.


Dari situ, aku tidak paham. Kenapa bisa, ketika memiliki anak sendiri, aku tak punya kepuasan, candu dan rasa rindu dengan gelak tawa anak seperti dulu.


Dulu, suka gemas dengan anak orang lain, dan dengan percaya diri bergumam dalam hati, kapan, ya, bisa punya yang menggemaskan juga. Lalu berikrar, ketika nanti setelah menikah dan punya anak, mau anak yang banyak supaya bisa diajak bermain ke sana ke mari. Akhirnya harapan menjadi ibu terkabul. Dengan dua balita, tetiba membuat rasa gemas yang dulu, menjadi ingin berlari saja ke pojokan dan menangis.


Sudah lama aku mengalami gejolak tak mengenakkan tersebut. Hingga aku menjadi pribadi yang bertolak belakang dari sebelum menikah. Aku menjadi temperamen, tidak percaya diri, tidak suka bertemu dengan banyak orang dan merasa hari-hari membosankan.


Aku ikut dengan suami ke tanah rantau ketika itu. Dan semuanya tak seindah yang kubayangkan. Kupikir hidup seatap dengan suami akan menyelesaikan semuanya. Tapi malah sampai pada tingkat akut. Ada masanya aku meraung sejadi-jadinya untuk sebuah kesalahan kecil, kejadian sepele atau bahkan peristiwa yang aku sendiri tidak pahami kenapa aku bisa menangis.


Puncaknya ketika aku merasa sakit. Merasa gampang capek, dihantui rasa bersalah, rasa tidak berguna, ingin mati saja. Setiap tindakanku tak bernilai menurutku, aku melabeli diri tidak berguna. Sampai pada titik di mana, aku tak ingin berkeluarga, aku ingin kehidupan seperti masa gadis dulu. Suamiku adalah satu-satunya support system bagiku, dan beliau tak bisa membersamai secara fisik dalam 24 jam. Separuh waktu dalam sebulan kami berpisah karena pekerjaan, dan waktu itu adalah seperti siksaan bagiku. Ditinggal sendiri, di tanah rantau tanpa aktivitas yang membuat berbinar dengan dua bocah balita laki-laki dalam masa aktif-aktifnya. Tentu sangat berpotensi memantik emosiku. Aku sadar, aku mungkin sudah mengalami yang namanya penyakit psikosomatik. Beberapa dokter sudah aku kunjungi. Keluhan pertama, dada kiri terasa sesak dan sakit, maka suami membawa ke dokter jantung. Hasilnya normal, dokter meresepkan obat pelemas otot dan menganjurkan untuk istirahat cukup. Ya! aku memang lebih sering insomnia. Malam berteman dengan hp sambil meratapi nasib. Tiga hari pertama, sakitnya hilang, tapi di hari keempat aku tetap mengeluh sakit, malah sakit perut yang luar biasa hingga dua pekan berturut-turut. Suami saat balik dari lapangan, kembali mengantar ke dokter penyakit dalam, tetap di resepkan obat relaksasi otot plus obat tidur. Jujur aku bosan, aku muak.


Beberapa dokter menganjurkanku ke psikiater. Tapi aku merasa benci dengan diri sendiri, kenapa terlalu jauh sakit ini sampai harus ke psikiater. Lama aku merenung, meminta petunjuk, meminta dukungan dari suami. Lalu ada satu titik aku diperkenalkan dengan sebuah komunitas, namanya IP - Ibu Profesional. Bisa dibilang, berkecimpung masuk ke dalam IP adalah salah satu titik balikku. Hingga sekarang aku mulai menikmati jati diriku. Aku mulai menyibukkan diri dengan passion bermain bersama anak-anak dengan membuat sebuah mini playground. Aku mencoba mengusung konsep bermain sambil belajar, aku benar-benar menerjunkan diri menjadi CEO yang merangkap-rangkap. Sampai tahap mengecat dinding playground pun aku lakoni, tapi aku menemukan kebahagiaan di sana. Lantai 2 ruko yang kami sewa, aku jadikan tempat pertemuan sederhana. Suatu hari seorang ibu datang menemuiku dan hendak menyewa lantai dua untuk majelis ilmu atau kajian rutin. Dengan senang hati aku mengiyakan. Setiap Ahad mereka pengajian di lantai dua dengan menitipkan anak-anak di playground-ku di lantai 1. Suatu hari aku iseng ikut kajian, dan akhirnya rutin ikut karena menemukan banyak teman yang ramah di sana. Akhirnya silaturahmi kami berujung pada belajar ngaji bareng setiap Jumat di rumahku. Masya Allah, aku merasa tidak sendiri lagi.


Baca juga: The Help: Knowing Your Child


Lalu momentum menyedihkan melanda dunia. Beberapa negara harus berkutat dengan pandemi yang masih berlangsung sampai sekarang. Aku tinggal di daerah dengan laju penyebaran covid 19 yang termasuk cepat, yakni di Kalimantan Selatan. Dengan terpaksa, majelis kajian dihentikan, orang-orang mulai khawatir mengunjungi tempat ramai, termasuk playground kami. Sehingga aku terpaksa memutuskan untuk menutup playground, jika dipertahankan kami akan merugi, penghasilannya tidak akan bisa menutup sewa ruko.


Beberapa bulan vakum, penyakitku mulai kambuh. Aku paham, aku butuh wadah berekspresi lagi. Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan program mentorship di Bunda Cekatan. Ranah yang aku pilih adalah pendidikan, aku ingin memiliki tempat bimbingan belajar dari rumah, usai program Bunda Cekatan yang juga merupakan salah satu level belajar di Komunitas Ibu Profesional, aku berusaha merealisasikan impianku. Masih seperti playground, aku pun melakukannya tanpa bantuan dari luar, hanya ada suami dan anak-anak. Sebulan berjalan, bimbel kami alhamdulillah telah memiliki 25 siswa. Bukan sebuah target yang dikejar suami, tapi senyum seorang istri.


Masya Allah, support system itu memang sangat berperan dalam mengubah hidup.


Selain support system ada beberapa hal yang harus dibenahi. Dari membangun sebuah kebiasaan, keinginan hingga kemampuan memanajemeni diri kita sendiri. Saya bukan seorang expert, tapi tak mengapa jika berbagi sedikit kiat menghadapi gejolak emosi seorang ibu. Yuk, diintip!


  1. Me time itu Penting

Ibarat mesin ketika tidak diistirahatkan, akan aus juga dan mempengaruhi performa kinerjanya. Manusia pun demikian, butuh istirahat, refresh yang sudah lalu. Ketika anak-anak sudah terlelap, entah itu siang ataupun malam hari, sempatkanlah ber-me time. Menikmati segelas coklat panas sambil membaca novel, video call dengan sahabat saat kuliah, menonton film korea sambil makan pisang goreng, dll. Nikmati waktumu, sudah selayaknya kamu punya penghargaan lewat me time  terhadap apa yang telah kamu lakukan seharian.


  1. Pillow Talk

Salah satu keran support system yang menyejukkan adalah pillow talk. Manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan, maka tidak mungkin Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjodohkan kita dengan suami, ayah dan anak-anak, jika tak memiliki tujuan. Bicara dari hati ke hati, saling memberi support, tumpahkan kekesalanmu, keresahanmu selama seharian, menangislah sejadi-jadinya di pelukan suami yang lebar. Pillow talk mengajarkanku untuk memahami dan dipahami.


  1. Ayo Liburan!

Ini me time skala besar. Tentu perlu di agendakan. Momen liburan adalah momen bersuka cita, memindai virus lelah hingga kembali segar. Tak perlu jauh-jauh, mengunjungi mall dengan berbelanja dan makan seharian di luar, naik gunung dan berkemah, memilih wisata alam yang dekat dari tempat domisili, piknik di pantai, dll.


  1. Perbanyak Teman, Mari Berkomunitas

Dengan berkomunitas, kamu akan mendapatkan banyak teman yang kata bekennya “sefrekuensi”. Saling menguatkan dan punya wadah untuk berkreasi dan membuka pikiran. Berkomunitas bagiku seperti vitamin kebangkitan. Aku merasa lebih bermanfaat dan dimanusiakan. 


  1. Selidiki, Lalu Perdalam Passion

Akan ada waktu di mana kita sibuk dengan rutinitas domestik dan anak-anak yang menguras tenaga dan pikiran. Dan tidak bisa dipungkiri, rasa bosan itu akan ada, dan untuk menjaga stabilisator emosi, maka diperlukan sebuah aktivitas bermain sendiri untuk seorang ibu.


Pahami dirimu, dalami passion, lakoni untuk membunuh rasa bosan dan berbahagialah merayakan kesukaanmu. Terkadang kita bisa mendapat nilai plus yakni produktif berpenghasilan dari sebuah karya passion.


  1. Bangun Pagi, Energi Subuh Menguatkan

Lawan malasmu, bangun subuh lanjut salat dan jangan balik ke tempat tidur lagi. Meski kamu adalah ibu rumah tangga, bukan di ranah publik yang harus pagi-pagi bersiap diri ke kantor, tetapkan bangun pagi sebagai sebuah kewajiban.


  1. Ikut Majelis Ilmu

Dekatlah dengan orang berilmu, dengan orang-orang yang beriman. Maka Insya Allah refleksi positif akan dirasakan.


  1. Support System 

Bangun support system dengan baik, kondisi hidup di tanah rantau jauh dari keluarga. Maka tetap ada suami sebagai support system, bicarakan keinginanmu dan mulailah bersama-sama meraihnya.


  1. Family Project

Situasi yang bermakna, bonding yang kuat aku temukan di family project. Perbanyak project management maka tangki cinta akan terisi sedikit demi sedikit.

  1. Manajemen Stres

Ada ilmu khusus tentang manajemen stres. Pelajari dan cocokkan dengan situasi kita masing-masing. 


Di luar sana, banyak ibu yang sedang berusaha meresapi tugas dan tanggung jawabnya. Di luar sana, aku yakin banyak ibu yang berusaha menikmati perannya dengan suka cita dan berusaha menggeser hal yang menghalangi. Di luar sana mungkin ada yang seperti aku, yakinlah bahwa kekuatan support system itu adalah baja. Kita akan mampu bertahan karenanya. Tak mudah menjadi seorang ibu, olehnya itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala punya banyak tawaran hadiah bagi mereka yang menjalankan perannya dengan baik. Semoga kita menjadi salah satunya. Aamiin.


Salam,

Metanamama


Kontributor: Astuty Amir

Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

1 Komentar

Jemari Ayumna mengatakan…
setuju banget. Majelis ilmu itu jangan sampai ditinggalin. Kadang orang lupa kalau cari hiburan itu bukan hanya perihal duniawi saja, tapi hati ini juga lebih perlu dihibur dan ditentramkan melalui majelis ilmu.