Pentingnya Belajar Membaca Menyenangkan untuk Starting Point Petualangan Belajar.
Salah satu momentum yang menantang untuk orang tua adalah ketika mengajarkan anaknya membaca. Membaca seyogianya adalah perjalanan belajar anak yang panjang, dan merupakan tumpuan dasar untuk melanjutkan belajar keterampilan ilmu yang lain.
Boleh dikata bahwa dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar, kemampuan membaca merupakan salah satu prasyarat utama. Padahal dulu, program belajar membaca baru akan dipelajari di kelas 1. Uniknya lagi, kurikulum PAUD dan TK tidak ada yang mencantumkan materi pelajaran membaca, paling umum adalah pengenalan huruf. Hal ini berarti, tugas mengajarkan anak membaca beralih ke orang tua di rumah.
Beberapa pakar psikologi pun menyarankan agar pelajaran membaca, menulis dan berhitung atau biasa kita mengenalnya dengan singkatan calistung, tidak diajarkan kepada anak di usia dini atau di bawah 5 tahun, dengan asumsi bahwa anak balita seharusnya masih berada dalam fase “bermain”, sedangkan pelajaran calistung tersebut disinyalir akan menjadi beban. Dunia anak adalah bermain, maka tak perlu disiapkan untuk hal yang terlalu tinggi dan susah. Lalu di manakah anak-anak akan diajarkan belajar membaca ini? Fenomena ini sesungguhnya meresahkan orang tua, membaca tidak diajarkan di bangku TK, sementara membaca menjadi prasyarat masuk ke sekolah dasar.
Akhirnya, orang tua memutuskan memasukkan anaknya ke les membaca. Seketika itu juga les calistung menjadi tren tersendiri, muncul bak sporadis. Metode belajar membaca pun bermunculan, mulai dari dieja, suku kata ataupun bunyi (phonic). Dengan bermunculannya tempat les baca ini, lebih memudahkan orang tua untuk “menitipkan” anaknya belajar di sana, sembari berharap begitu siap masuk sekolah dasar, anaknya pun sudah bisa membaca.
Bukan sebuah kesalahan ketika orang tua akhirnya memasukkan anaknya ke lembaga non formal seperti bimbingan belajar yang menyediakan jasa les baca. Apalagi untuk notabene orang tua yang memiliki jam terbang di ranah publik lebih besar ketimbang di ranah domestik, di mana mengajarkan membaca untuk anak-anaknya memang membutuhkan waktu. Sayangnya mereka lupa, bahwa belajar membaca ini adalah starting point anak dalam memulai petualangan belajarnya.
Pengalaman belajar membaca nantinya memiliki pengaruh yang kuat terhadap minat baca anak. Tentu, minat baca nantinya akan berpengaruh kepada keinginan untuk belajar, kecintaannya dalam proses belajar, hingga kesungguhannya dalam menuntut ilmu.
Orang tua terkadang mengharapkan hasil akhir saja yaitu anaknya akhirnya bisa membaca, namun pada akhirnya mereka lupa bahwa proses mendapatkan hasil itu yang penting, melihat kondisi umur anak yang masih belia. Maka metode belajar membaca itu adalah hal yang penting. Sehingga memilih tempat les baca pun menjadi penting.
Mari kita menelaah seperti apakah proses yang dilalui anak dalam mendapatkan kemampuan belajar membacanya. Seberapa panjang proses yang harus di lalui anak hingga mampu menerjemahkan sebuah simbol huruf menjadi menjadi sebuah kalimat. Membaca menurut Nurhadi (2008), adalah proses yang sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor, yakni internal (minat, intelegensi, bakat, tujuan membaca, motivasi) dan aspek eksternal (sosial-ekonomi, sarana membaca, tradisi membaca).
Baca juga: 8 Jenis Parenting Style
Tahukah kita, bahwa ternyata membaca ini erat kaitan dengan berbagai aspek dalam kehidupan. Misalnya aspek sensori, sejauh mana anak-anak mampu memahami simbol-simbol tertulis. Aspek afektif atau lebih kepada aspek emosi, di mana adanya andil guru, orang tua ataupun kelompok yang bersinggungan dengan anak dalam proses belajar membacanya. Aspek perceptual, yaitu proses menerjemahkan makna dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalaman, serta respon si anak dalam menghubungkan makna, stimulus dan lambang tersebut. Sehingga bisa disimpulkan bahwa role models anak dalam hal ini orang tua dan kecakapan guru yang mengajari membaca menjadi penting, untuk keberhasilan anak belajar membaca.
Dalam buku membaca menyenangkan ala Montessori¸ dijelaskan bahwa ada dua tahapan dalam belajar membaca, yakni tahap pra-membaca dan tahap membaca. Tahap pra-membaca diperuntukkan untuk usia 2,5 tahun. Di mana tahapan ini berisi tentang keterampilan bercakap-cakap anak, mendengarkan cerita, bernyanyi, membaca buku cerita bersama, mencocokkan kartu, mencocokkan objek dengan kartu, mengenalkan kegiatan suku kata bertema, dll. Lalu masuk ke tahap membaca, dituliskan bahwa tahap membaca ini sudah bisa diperuntukkan untuk usia 3-6 tahun, biasanya dimulai dengan pengenalan huruf vocal A, I, U, E, O.
Selain Montessori, ada beberapa seni membaca untuk anak lainnya. Disebut seni karena untuk mempelajarinya memang membutuhkan keterampilan, sehingga tidak semua anak memiliki ketuntasan belajar membaca yang sama, ada yang singkat, ada yang lama. Seperti halnya seni, tidak semua orang mampu melakoninya dengan baik. Metode lainnya antara lain:
Metode Abjad
Metode ini mengajarkan dengan memulai mengenalkannya bunyi sesuai pada huruf-huruf abjad
Metode Eja (Spelling Method)
Metode ini mungkin bisa juga disebut metode konvensional. Mengajarkan membaca dengan mengeja huruf demi huruf
Metode Suku Kata (Syllabic Method)
Metode ini diawali dengan pengenalan suku kata seperti ba bi bu be bo, ca ci cu ce co dan seterusnya.
Metode Kata (Whole Word Method)
Metode ini diawali dengan pengenalan kata yang bermakna, fungsional dan konstekstual.
Metode Kalimat/Global (Syntaxis Method)
Metode ini dengan mengajarkan langsung kalimat, membaca kalimat secara utuh.
Metode SAS (Structural, Analytic, Syntactic)
Metode ini boleh dibilang mengajarkan anak dengan sistem belajar mengerucut ke bawah. Anak diajarkan struktur kalimat secara menyeluruh, lalu diuraikan menjadi kata, suku kata hingga huruf.
Mengurai bahwa betapa kompleksnya ternyata sebuah dimensi pembelajaran anak dalam menemukan kemampuan keterampilan membacanya, maka sepantasnya orang tua mempersiapkan diri untuk hal penting tersebut. Tak semudah membalikkan telapak tangan dan hanya berharap pada tempat bimbingan belajar, les baca, atau guru privatnya. Akan sangat bijak, jika orang tua memulai dengan hal-hal kecil di rumah sebagai awalan tahap pra-membacanya. Beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya:
Dongeng, Kisah, dan Read a Loud
Kebiasaan bercerita di depan anak, membacakan buku dan berkisah adalah salah satu kegiatan tahap pra-membaca. Pilihlah buku yang full color, dengan minim tulisan dan bahasa sederhana. Pelan-pelan anak akan mulai terbiasa dengan simbol huruf, deretan kata dan rangkaian kalimat.
Public Speaking Anak
Jangan menganggap anak adalah hanya sekedar seorang makhluk kecil biasa, yang tak harus diikutsertakan dalam sebuah kegiatan, ataupun di beri tanggung jawab. Kecakapan verbal anak lewat kemampuan berkomunikasi bisa dibina dengan momen kecil dalam keluarga, berdiskusi lewat momen musyawarah keluarga, berdiskusi dalam memilih warna pakaian. Bercakap-cakap dari hal mendasar sampai akhirnya nalarnya mengular, bercabang, lalu pada akhirnya anak bisa bercerita dengan runut, mengetahui proses sebab akibat dan seterusnya.
Practical Life
Practical life memuat banyak aspek yang mendukung proses pra-membaca. Aspek focusing, aspek tersebut menstimulasi kognitif dan pemusatan perhatian anak. Dengan asumsi bahwa kegiatan membacanya nanti bisa lebih siap dan fokus.
Bermain
Apakah bermain benar membantu proses membacanya kelak? Mari kita telaah bersama. Bahwa bermain itu melibatkan keterampilan motorik dan sensorik anak. Ketika ayah dan bunda mengajaknya bermain menyusun angka, huruf, membuat puzzle angka dari lego, dll, maka jelas hal itu akan mendukung proses belajar membacanya kelak.
Kegiatan pra-membaca adalah penguatan awal sebagai jembatan pendukung indikator dan kompetensinya kelak ketika memasuki gerbang tahap membaca. Orang tua perlu bijak dan peka menyikapi hal tersebut agar petualangan belajar anaknya kelak akan menjadi sebuah proses yang menyenangkan.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Astuty Amir
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar