Sepulang sekolah, Fakhira berganti baju dan bermain bersama adiknya, minta uang dan jajan di warung Nenek. Setelah jajan, mereka menunjukkan kartu hadiah permen karet. Masing-masing diberi satu bungkus kartu yang berisi kurang lebih sepuluh kartu. Mereka dengan bahagia menyusun kartu di lantai dan mengamati gambarnya sambil menikmati jajanan.
Mereka asyik bermain, kesempatanku untuk meluruskan punggung. Tak lama, Fakhira masuk ke kamar sambil menangis sedih. Ternyata dia kecewa karena dia dan adiknya diberi sebungkus kartu, sedangkan sepupunya diberi dua bungkus kartu.
"Mungkin itu kartunya bukan untuk Teh Tia semua, Nak. Untuk Teh Ina juga," ujarku menenangkan.
"Gak kok, orang kartunya dipegang Teh Tia dua-duanya," jawabnya sambil meraung.
Sejak kecil Fakhira jarang sekali tantrum, menangis sampai meraung-raung. Tapi kali ini berbeda, dia menangis sampai bergulingan di kasur.
"Nenek gak adil, nenek sayangnya sama Teh Tia aja." Tangisnya semakin menjadi.
Kucoba memeluknya dan memberikan pemahaman.
"Nak, kan, kartunya cuma ada empat, satu untuk Mbak Fakhira, satu untuk Ilyas, satu untuk Teh Tia," ujarku sambil menunjukkan empat jari. "Sisa satu. Nenek bingung untuk siapa."
"Kenapa gak dibiarin aja di toples, kenapa malah dikasih Teh Tia?" teriaknya histeris.
Aku benar-benar bingung bagaimana menghadapi. Aku tidak pernah mengalami situasi seperti ini.
"Atau kenapa gak dikasih ke orang lain aja. Nenek itu gak adil!" Masih sambil berteriak dan menangis.
Aku sangat terkejut dengan pernyataan Fakhira. Sebenarnya bisa saja kubelikan permen karet dua toples, maka akan mendapat bonus kartu dua plastik, suasana pasti aman. Fakhira akan berhenti menangis. Tapi itu bukan solusi. Jangan sampai tertanam di benaknya bahwa neneknya tidak adil dan pilih kasih. Apalagi jika terbawa sampai dewasa nanti.
Baca juga: Tips Jika Gigi Anak Berlubang
"Kan, Teh Tia lagi sakit, Nak. Mungkin Nenek mau menghibur Teh Tia, makanya dikasih kartu dua."
"Keenakan kalo kaya gitu!"
"Ya udah, Mbak maunya seperti apa?"
"Mbak mau kartu dua, Ilyas kartu dua biar sama kayak Teh Tia, atau kartu Teh Tia yang satunya dikembaliin ke toples," teriaknya.
Air mataku hampir saja menetes. Sepertinya kejadian ini membuatnya benar-benar terluka.
"Kalau kita tunggu Nenek belanja lagi, nanti kartunya untuk Mbak, gimana?"
"Kata Nenek belanjanya masih lama, nunggu permennya habis."
"Berarti kita doakan dagangan Nenek laris, biar permennya cepat habis, jadi Nenek belanja lagi."
Fakhira makin histeris, sambil menendang-nendang ke segala arah. Air mataku benar-benar menetes. Kupeluk Fakhira, sambil berulang kali kuucapkan,
Fakhira anak sabar, kan? Fakhira anak sholihah kan?'
Tapi itu sama sekali tidak mempan. Akhirnya aku mengalah, akan mencoba ngobrol dengan sepupunya.
"Ya udah, ayok kita ngomong baik-baik sama Teh Tia, ya. Biar kartu satunya di kembalikan ke toples."
Akhirnya kami menemui sepupu Fakhira, kasihan sebenarnya dia sedang sakit.
"Teh Tia, Fakhira pengennya semua dapet kartu satu, biar adil, jadi kartu Teh Tia dikembalikan, ya, ke toples warung."
Ternyata lobi tidak berhasil, sepupu Fakhira malah menangis. Fakhira kembali menangis histeris sambil berteriak. Nenek menemui kami.
"Tuh kan, gak mau, itu gara-gara nenek gak adil."
Aku terkejut sekali Fakhira menyampaikan kecewanya pada orang yang bersangkutan. Biasanya dia tidak pernah berani menyampaikan apa yang dirasa pada orang lain.
"Nenek gak tau kalau bakal jadi ribut begini. Nenek tua sayang sama semua, tapi, kan, Teh Tia lagi sakit, kasihan."
Mendengar penjelasan nenek, Fakhira makin ngamuk. Akhirnya nenek menyuruh adik iparku belanja permen dua toples lagi. Mendengar itu Fakhira mulai tenang.
"Mau nunggu di sini atau nunggu di rumah kita?"
"Nunggu di sini, aja." Sambil mengelap pipinya yang basah.
Akhirnya aku pulang, mudah-mudahan luka Fakhira sembuh. Tidak lama kemudian Fakhira dan Ilyas pulang.
"Udah Mamang beli permennya?"
"Belum, Mamang mau makan dulu."
Kemudian kupangku Fakhira, akan kuberi pengertian terkait adil.
"Nak, adil itu bukan berarti sama rata. Adil itu sesuai kebutuhan. Misalnya Umik punya empat jeruk," kataku sambil menunjukkan empat jari. "Mau Umik kasih ke Mbak dan Ilyas, tapi Mbak Fakhira lagi diare, kata dokter kalau lagi diare gak boleh banyak makan buah. Nah, Adek lagi sariawan, kata dokter kalau sariawan harus banyak makan buah, jadi gimana, nih, membagi jeruknya?"
Agak lama Fakhira berpikir.
"Ilyas tiga, Mbak satu," jawabnya lirih.
"Umik adil, gak, kalau seperti itu? Masak Mbak cuma satu, Adek tiga?"
"Adil," sahutnya mantap.
"Kan jumlahnya gak sama?"
"Kan Mbak gak boleh banyak makan buah."
"Mbak kecewa gak kalau cuma diberi satu jeruk?"
"Gak, kan, Mbak gak boleh makan buah banyak."
Alhamdulillah penjelasanku masuk di logika Fakhira.
"Tapi kalau kartu tetap harus sama, Mik. Karena Teh Tia gak butuh kartu banyak."
Halah! Bocah ini balik lagi ke masalah kartu.
"Nah, kalau Mbak Fakhira merasa diperlakukan tidak adil. Mbak harus menyampaikan, tapi dengan cara yang baik, ya."
"Kalau sambil nangis dan teriak-teriak baik, gak?"
Dia geleng-geleng sambil tersenyum malu.
"Ya udah, Mbak mau bilang baik-baik sama Mamang, biar beli permennya, nanti kartunya untuk Mbak dan Ilyas. Mamang udah selesai makannya," ujarnya bersemangat.
Tidak lama kemudian Fakhira pulang dengan loyo.
"Kata Mamang belanjanya besok aja, Mik. Sekarang udah mau magrib."
"Mbak sabar, gak, nunggu sampai besok?"
"Iya, Mbak sabar."
Ternyata masalah ini belum selesai, aku khawatir, pernyataan besok hanya untuk menunda dan berharap anak tersebut lupa dengan permintaannya. Kan, sering kejadian seperti ini. Meskipun aku dan suami berusaha untuk selalu menepati janji. Kalau bilang besok, ya, besok benar-benar ditepati.
Kita tidak bisa meminta orang lain untuk melakukan prinsip kita. Tapi kita bisa menyiapkan anak kita untuk segala kemungkinan buruk di luar sana.
Menjelang tidur aku membuka obrolan serius dengan Fakhira.
"Mbak merasa, gak, kalau Nenek sayang sama Mbak?"
"Iya merasa, tapi tadi Nenek gak adil."
"Manusia kan terkadang berbuat salah, Nak. Umik, kan, pernah berbuat salah, Abi pernah berbuat salah. Mungkin hari ini Nenek sedang berbuat salah, kalau ada orang yang berbuat salah sama kita, kita harus memaafkan."
"Mbak memaafkan Nenek, gak?"
"Iya, Mbak udah memaafkan Nenek. Mbak udah gak marah."
"Kalau misalnya besok Nenek gak beli permen, Mbak marah gak?"
"Gak, Mbak udah gak marah lagi masalah kartu, kok."
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur, Fakhira sudah memaafkan kejadian ini. Lukanya sudah sembuh.
Mungkin luka-luka masa kecil kita begitu banyak, selalu dibandingkan, diberi janji-janji palsu, dibohongi, merasa orang tua pilih kasih. Dan luka itu tetap terbawa sampai dewasa. Jangan sampai anak kita pun merasakan itu, berusahalah untuk menyembuhkan luka itu, dan jangan sampai anak-anak kita membawa lukanya sampai dewasa. Segera basuh lukanya agar sembuh.


0 Komentar