The Help: Knowing Your Child


Rasa penasaran menuntun saya menelusuri mesin pencari Google untuk mencari versi utuh sebuah film, sesaat setelah menonton cuplikan dan membaca ulasannya di sebuah akun Instagram.

Film yang berdurasi 2 jam 30 menit itu menyuguhkan kisah tentang kehidupan para wanita kulit hitam dan berprofesi sebagai asisten rumah tangga dari keluarga kulit putih yang tinggal di daerah Mississippi. Sebuah film yang sarat dengan makna dan nilai kehidupan. Tulisan ini tidak akan membahas alur secara mendetail dari film yang berjudul 'The Help' tersebut. Saya hanya akan menyoroti beberapa poin pola pengasuhan yang bagi saya sangat menarik untuk diceritakan.

Dalam film itu ada sebuah adegan di mana Aibileen, seorang wanita paruh baya berkulit hitam, mengasuh anak perempuan usia sekitar 3 - 4 tahun yang masih menggunakan popok, dan kurang mendapat perhatian dari ibunya. Dalam film ini, para ibu berkulit putih digambarkan sebagai para sosialita yang lebih sibuk dengan peran mereka di ranah sosial untuk mendapatkan gengsi daripada mengurus anak-anak mereka. 



Aibileen khawatir jika ibu dari anak yang diasuhnya hamil kembali. Kenapa? Karena anak yang pertama saja tidak mampu dia asuh selayaknya seorang ibu. Kalimat Aibileen ini sangat logis, “Aku berdoa semoga anak ini menjadi anak yang baik. Akan menjadi perjalanan panjang yang sepi bagi anak itu, jika seorang ibu berpikir anak mereka tidak cantik."


Di sini, makna terdalam yang bisa saya ambil dalam pengasuhan adalah, bahwa berapa banyak ibu-ibu yang hanya menjadi ibu biologis, bukan ibu ideologis. Mereka hanya melahirkan, memberi makan dan menyekolahkannya, lalu berharap bahwa anaknya akan menjadi anak yang sempurna, pun ketika si anak menjadi orang yang bermasalah, mereka hanya akan fokus untuk menyalahkan anaknya, bukan introspeksi kenapa dia gagal mengasuhnya.

Ketika anak merasa tidak diinginkan, merasa selalu salah dan kurang di mata orang tuanya, mereka sangat menderita. Bukankah banyak, bahkan mungkin kita salah satu korban dari ketidakpuasan orang tua yang mengakibatkan kita menjadi orang yang tidak memiliki rasa percaya diri, selalu merasa tidak mampu dan kurang. Dan ada juga anak-anak yang membalas pengasuhan salah tersebut dengan cara yang ekstrem, seperti menyakiti diri sendiri dan orang tuanya.

Dalam dialog yang lain, Aibileen selalu mengucapkan pada anak yang diasuhnya, kamu cantik, kamu baik, kamu berharga. Kata-kata itu sangat menyentuh buat saya. Kadang kita menuntut anak kita menjadi sempurna versi kita, tanpa ingin lebih jauh mengenal mereka. Akhirnya, tidak sedikit dari kita yang sering melabeli anak dengan sebutan yang tidak baik. 

Ya, labelling. Kata-kata yang bisa mengubah seseorang.

Karena sesuatu yang diulang-ulang akan membentuk sebuah kebenaran.

Karenanya, saat kita mengasuh anak-anak kita, jangan membuat sebuah label buruk pada mereka. Mereka akan berpikir bahwa seperti itulah adanya mereka. Fokuslah pada membentuk pola pikir positif. Fokuslah pada kelebihan anak dan memberikan saran pada kekurangannya. 

Dari keseluruhan jalan cerita, sentilan yang masih relevan sampai sekarang adalah tidak sedikit anak-anak di luar sana yang lebih dekat dengan pengasuh daripada orang tuanya. Seperti kata anak yang diasuh oleh Aibileen, “Aibee, you are my real mother”. Sangat menyedihkan, ketika anak lebih memilih pembantu dibandingkan ibunya sendiri. Dan itu masih ada sampai sekarang. Tidak ada yang salah dengan memiliki asisten, baik untuk mengurus rumah maupun mengurus anak, tapi jangan cabut hak anak untuk mendapatkan ibunya, hanya karena kita sibuk dengan hal lain.

Menjadi ibu bukanlah tentang semata hamil, melahirkan dan memberi makan anak agar tetap sehat dan tumbuh besar, tapi juga tentang kesiapan kita untuk memberikan "the best effort" kita untuk menjadikan sosok baru ini menjadi manusia yang baik dan berharga untuk diri, keluarga dan orang di sekitarnya. Bicara tentang kesiapan, maka hentikan berkata, “kapan hamil?”, “kapan nambah lagi?”, bahkan pada orang yang kita akrab dengannya. Karena setiap orang memiliki waktu yang tepat masing-masing sehingga siap untuk menjadi ibu. Dan berapa pun jumlah anak yang kita lahirkan, yang terpenting adalah memberikan hak mereka secara penuh. 

Be good to yourself, to your family, and to your society.


Salam,

Metanamama


Kontributor: Junani

Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

0 Komentar