Rukun Islam yang kedua adalah shalat. Kewajiban bagi setiap umat muslim untuk melaksanakan shalat 5 waktu. Allah Subhanahu wata’ala menurunkan perintah shalat lima waktu melalui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam saat peristiwa Isra Mi’raj. Shalat lima waktu terdiri dari subuh, zuhur, ashar, magrib, dan isya.
“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya." (HR. Thabrani)
Shalat adalah tiang agama, di mana jika tiang itu dibangun dengan kokoh maka akan kokoh pula bangunan dan segala yang bertopang di atasnya. Oleh karena itu, shalat tidak hanya wajib dijalankan oleh masing-masing individu, melainkan menjadi wajib untuk diajarkan pada anak-anak. Lalu, kapan waktu yang tepat mengajarkan anak shalat?
Dalam hadis tersebut anak bisa mulai diajarkan shalat ketika berusia 7 tahun, namun mengenalkan anak tentang shalat bisa dilakukan sedini mungkin. Saat anak masih bayi bisa turut serta shalat bersama orang tua dengan meletakkannya di sisi bagian depan sejajar dengan letak sujud orang tua. Banyak cara yang bisa diterapkan oleh orang tua untuk mengajarkan anak shalat.
Shalat adalah kewajiban seumur hidup baik dalam keadaan sehat maupun sakit, maka orang tua perlu mengajarkan anak untuk shalat disertai dengan menumbuhkan kecintaan di dalamnya. Kelak anak terbiasa shalat bukan sekedar menggugurkan kewajiban, tapi juga karena cinta dengan shalat yang dilakukannya.
Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengajak mencintai shalat:
Orang tua mencontohkan disiplin shalat tepat waktu.
Konsisten mengajak anak shalat 5 waktu.
Mendampingi anak untuk melakukannya dengan tata cara yang benar, seperti harus berwudu terlebih dahulu.
Ajak anak ke masjid terutama untuk anak laki-laki dan sesekali saja untuk anak perempuan. Jika memungkinkan saat shalat tarawih dan hari raya adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan anak betapa bahagianya bisa melaksanakan shalat.
Buat waktu khusus sekitar 15 menit untuk praktik bacaan shalat, yang paling mudah adalah ketika waktu shalat dhuha. Praktik shalat sekaligus shalat dhuha.
Menceritakan pada anak segala sesuatu yang berkaitan tentang shalat berikut manfaatnya.
Ajak anak untuk berdiskusi tentang perasaannya saat melaksanakan shalat. Hal ini untuk mengantisipasi sekaligus mencari solusi saat anak malas-malasan diajak shalat.
Berikan reward atau hadiah di setiap perkembangan yang ia capai dalam shalat.
Sikap tegas dari orang tua bisa lebih dioptimalkan saat anak lalai mulai usia 10 tahun. Tegas bukan berarti menggunakan kekerasan fisik dan bentakan. Sikap tegas bisa dalam bentuk kesepakatan antara orang tua dengan anak mengenai konsekuensi yang harus diterima saat anak meninggalkan shalat.
Baca Juga: Hidup Bersih & Sehat Bersama Anak
Proses anak mencintai shalat bisa jadi memerlukan waktu lebih lama dari sekedar hanya mempelajari. Masa anak-anak merupakan masa yang masih mudah menyerap ilmu baru karena rasa ingin tahu mereka yang besar. Tapi proses belajar mencintai shalat bergantung pada semua aspek, yaitu orang tua dan lingkungan yang ia lihat dalam memperlakukan shalat. Komitmen dan konsistensi perilaku orang tua yang idealnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak dapat membentuk pola atau konsep yang dipahami anak dalam hal apa pun, termasuk perkara shalat.
Saat anak mulai mencintai shalat, maka ia akan mencintai Tuhannya, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka saat itu juga anak akan senantiasa bahagia dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga anak-anak kita termasuk dalam orang-orang mukmin yang mencintai shalat. Aamiin.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Syifa Achyar
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar