Warisan Pemikiran Bag. 2
Memiliki masa kecil dalam lingkungan sederhana dan diasuh oleh orang tua dengan ilmu pengasuhan yang minim, menjadikan saya sosok seperti sekarang. Terbiasa dengan tekanan kompetisi untuk menjadi peringkat satu, membentuk karakter yang tidak mudah puas sekaligus rapuh ketika mengalami kegagalan. Dan saat itu tidak ada satu orang pun yang meyakinkan saya untuk menghargai usaha dan mampu menerima diri sendiri.
Saya membuka kembali catatan hasil seminar parenting yang pernah saya ikuti di tahun 2018. Pematerinya adalah Abah Ihsan, salah satu praktisi parenting yang banyak menginspirasi saya dalam memasuki dunia anak. Di salah satu sesi, Abah Ihsan pernah bertanya, “Anak itu anugerah atau beban?”, diikuti dengan, “Anak itu banyak memberi atau meminta?”.
Jika kita menjawab bahwa anak adalah anugerah. Benarkah? Jika anak adalah anugerah, kenapa kita tidak merasakan kehadiran anak itu sebagai sesuatu yang harus kita jaga dengan baik, kita syukuri dengan sepenuh hati?
Apakah ternyata anak itu seperti beban untuk kita?
Meski mungkin kadang kita salah dalam bertindak dan mengambil keputusan, saya tetap ingin mengembalikan kedudukan anak dalam hidup saya, yakni sebagai anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada saya, yang mana dengan segala kekurangan saya, Allah ingin saya belajar dari amanah yang diberikan-Nya itu.
Baca Juga: Bersabar - Warisan Pemikiran Bag. 1
Sejak mengikuti seminar parenting, saya terus berusaha untuk memupuk pikiran positif tentang anak dan dunianya. Dalam setiap kesempatan, saya akan mengungkapkan betapa saya sangat bahagia atas kehadirannya dalam hidup saya.
Terima kasih sudah menjadi anak Bunda.
Terima kasih sudah bersabar dengan Bunda yang harus banyak belajar lagi dalam mengurus Syifa.
Terima kasih sudah menjadi anak salihah yang selalu mendoakan Bunda.
Dan masih banyak lagi ucapan terima kasih saya kepadanya karena memang tidak akan cukup, dia yang telah mengajarkan banyak hal pada saya. Bahkan karena wasilah kehadirannyalah, saya selalu memiliki motivasi untuk menjadi orang yang lebih baik.
Karena anaklah saya belajar mencintai diri sendiri.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan Allah ajarkan pada kita dengan setiap amanah dan ujian yang Allah berikan karena keterbatasan pengetahuan kita. Namun, sebagai manusia yang diberikan akal, selayaknya kita berpikir dan belajar dari kedua hal tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa anak adalah ujian bagi kita. Ujian yang akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik atau bahkan menjadi orang yang buruk dan menebar keburukan. Tentu kita tidak ingin menjadi orang tua yang durhaka. Maka penuhilah hak anak-anak kita. Baik kebutuhan secara fisik, psikis maupun spiritual.
Anak yang tumbuh dari rasa syukur orang tuanya, akan memiliki karakter percaya diri yang positif, karena mereka merasa diterima, dicintai dan dibutuhkan.
Saya mencintai anak saya dengan sepenuh hati dan semampu yang saya bisa untuk mendidiknya. Tidak cukup kata untuk mengungkapkan bahwa saya sangat bersyukur tentangnya. Ketika saya memberinya satu cinta, dia membalasnya dengan lebih banyak cinta dan ketaatan. Ketika saya memberikanya kepercayaan, dia membalasnya dengan kesetiaan dan keteguhan.
Ketika saya sangat sedih, ternyata tangan mungilnya sudah mampu mengusap air mata saya. Ketika saya gelisah, ternyata suara kecilnya sudah mampu menenangkan saya. Hal ini membuat saya menyadari bahwa ternyata anak lebih banyak memberi daripada meminta pada hidup kita. Terima kasih, Nak.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Junani
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar