Anak Penakut? Oh No!

Anak punya banyak cerita. Salah satunya rasa takut. Takut ini, takut itu, takut bertemu orang baru, atau lainnya. Makin penakut jika orang tua atau neneknya pakai cara kolot dalam mengasuh anak. Anak ditakut-takuti agar patuh. Anak akan jadi penakut.

Pasti ingat dong dengan beberapa kalimat menakut-nakuti ini …


Awas, ada penculik! 

Awas, jangan main pisau, nanti tangan terluka! 

Hii ... di situ ada setan! 


Pasti familiar.



Pengasuhan anak dengan rasa takut 

Orang tua di masa lalu memang menggunakan perasaan takut untuk mendapatkan wibawanya. Agar aturan emas yang ditentukan, dipatuhi dan tidak dilanggar anaknya. Memang pemahamannya seperti itu. Cara itu juga dilakukan pada saat ibu bapak kita masih kecil. Pada masa sebelum mereka, peringatan di atas bisa jadi benar adanya, karena mereka di masa perang, masa penculikan, dan lainnya. Mereka hidup di masa seorang anak masih begitu mudah terancam dan hilang. 

Masa sekarang sudah relatif aman. Yang bisa kita lakukan adalah memberitahu kepada anak tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Mengajarkan kebiasaan dan kemandirian agar ia selalu percaya diri dan tenang menghadapi sebuah permasalahan. Beritahu dengan lembut dan jelas.

Melatih anak pekerjaan rumah sesuai usianya bisa membuatnya menjadi pribadi yang berani dan percaya diri. 


Rambu boleh dan tidak boleh


Memberitahu pada anak perilaku yang boleh dan tidak boleh juga membuatnya paham jika sebuah kejadian atau tempat perlu diwaspadai atau tidak. Contohnya, area yang boleh dijelajah, area privasi pada tubuhnya, alat yang tidak boleh dipakai tanpa pengawasan, dan lainnya.


Saya yakin dengan cara memberitahu yang lembut dan jelas, akan membuat anak paham. Lakukan beberapa kali sebagai penguatan. Berapa kali jumlahnya? Secukupnya. Indikatornya sampai ia mengatakan cukup atau menirukan nasihat kita. 


Rasa takut itu normal


Rasa takut itu normal, yang tidak normal adalah ditakut-takuti. Bagi anak, penyebab rasa takut adalah sebuah ancaman, dan ia bisa benar-benar ketakutan sampai terbawa ke dalam mimpi. Seakan-akan apa yang dikatakan itu benar adanya. Nyata dan akan terjadi padanya. Kita tentu tak ingin memiliki anak yang sering ketakutan akan hal yang tidak jelas.


Menurut Halodoc dalam artikel “Orang Tua Perlu Tahu Dampak Negatif Menakuti-nakuti Anak”, dikatakan bahwa akibat dari menakut-nakuti anak akan membuatnya jadi penakut dan tidak percaya lagi pada orang tuanya. 


Dampak negatif menakuti-nakuti anak


Kelihatannya sepele, hanya mengatakan, “Awas ada penculik. Jangan keluar,” lalu anak kembali masuk ke rumah. Namun, lambat laun anak akan menyadari bahwa orang tuanya pembohong. Ia akan sampai pada kesimpulan itu, setelah mengalami berbagai rasa takut dan perasaan terancam jika akan keluar rumah. 


Ini, lho, dampak menakuti anak:


1. Anak jadi penakut

2. Anak jadi tidak percaya diri

3. Anak memiliki phobia

4. Anak menganggap orang tuanya pembohong


Kelihatannya simpel dan sering keceplosan, tapi ternyata dampaknya sangat luar biasa. Sebaiknya Bunda segera meminta maaf pada anak dan menghentikan kebiasaan menakut-nakuti anak. 


Bunda tentu bukan tipe orang tua kolot yang mendasarkan wibawa pada rasa takut anak, kan? Ayo benahi cara pengasuhan anak bersama-sama.



Salam,
Metanamama



Kontributor: Susi Ernawati
Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

0 Komentar