10 Tips Sederhana Mengatasi Sibling Rivalry

Salah satu kebahagiaan hakiki seorang ibu adalah melihat anak-anaknya hidup rukun. Namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan menyandingkan pengasuhan dua anak atau lebih dalam satu rumah. Porsi pembagian perhatian dan waktu untuk tiap anak terkadang dinilai tidak adil dan mengundang kecemburuan yang berujung pada refleksi sikap yang kurang baik terhadap saudaranya.



Sibling rivalry bisa diartikan sebagai kecemburuan, kompetisi, persaingan, dan rasa iri antara dua orang bersaudara atau lebih.


Fenomena ini bisa terlihat bahkan sejak adiknya masih dalam kandungan. Mungkin sebagian Bunda tidak akan menduga akan ada peristiwa yang namanya sibling rivalry. Apalagi ketika melihat efeknya, si kakak yang tadinya seorang yang penyayang, berani memukul adiknya yang masih bayi, berteriak-teriak di kamar ketika Bunda tengah menidurkan adik demi mencari perhatian. Kakak yang dulunya sudah bisa makan sendiri tiba-tiba ingin disuapi bundanya. Terkadang Bunda dengan kelahiran anak kedua dan mendapati keadaan seperti ini, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Emosi Bunda pascamelahirkan, bisa memperparah keadaan. Jangan menyepelekan emosi si kakak, sudah saatnya mempersiapkan rolling-an emosi kakak menyambut kehadiran adiknya sejak awal. Bagaimana tips sederhananya? Yuk, disimak!


  1. Beritahu si kakak sejak awal


Saat Ayah dan Bunda mengetahui kehamilan, maka sejak saat itu pula si kakak berhak tahu. Harapannya si kakak akan lebih siap menyambut kehadiran si adik.


  1. Beri penjelasan sederhana


Berikan penjelasan sederhana bahwa kakak akan mendapat teman bermain. Rumah tidak sepi lagi nanti ketika adik lahir. Jelaskan bahwa adik nantinya lahir dengan segala macam kekurangannya, belum bisa berjalan, berbicara sehingga kita harus membantunya.


Tapi ... Adik nggak perlu khawatir, ada Kakak yang akan mengajarinya berjalan, membantunya makan. Iya, kan, Kak?


Boleh dikuatkan dengan penjelasan dari buku tentang kelahiran adik, usahakan buku anak yang full color dengan tulisan sedikit agar ia lebih mudah memahami dan antusias melihat isinya.


  1. Cobalah memasukkan si anak pertama dalam tahap tumbuh kembang adiknya


Ajak si kakak dalam pemeriksaan rutin kehamilan. Biarkan kakak meraba perut Bunda yang perlahan membesar, merasakan tendangan adiknya, menonton USG adiknya di layar monitor. Biarkan kakak berbicara dengan dokter kandungan. Hal-hal seperti ini akan membuatnya merasa ‘penting’. Bahwa kakak dianggap memiliki andil dalam proses kedatangan si adik.


  1. Memilih pakaian dan perlengkapan bayi


Ketika Bunda mulai mempersiapkan pakaian dan perlengkapan bayi untuk menyambut kedatangan adik, maka ajaklah si kakak ikut serta. Biarkan kakak memilih baju dan perlengkapan adiknya. Lagi-lagi proses ini akan membuat dia merasa berguna dan dibutuhkan. Kakak akan merasa lebih punya “power”. Jangan lupa berikan apresiasi karena kakak sudah mau membantu. Ucapkan hebat, terima kasih dan sejenisnya yang membuat dia senang.


  1. Selalu memberi support


Masa yang dinanti pun datang. Makhluk kecil yang ditunggu-tunggu akhirnya terlahir ke dunia. Jangan terlena dengan keimutan adiknya. Upayakan bersinergi dengan suami dan kerabat terdekat untuk selalu memberi support kepada si kakak. Termasuk ketika Bunda akan ke rumah sakit dan menginap beberapa hari untuk proses kelahirannya. Momen ini akan sangat penting untuk kakak, apalagi untuk anak yang belum pernah ditinggal oleh bundanya.


Baca Juga: Anak Penakut? Oh no!


  1. Random kado


Sebelum si adik lahir, persiapkanlah kado untuk kakak. Lalu random bersama kado yang diberikan oleh kerabat saat datang mengunjungi Bunda. Dengan begitu, kakak tidak akan merasa bahwa hanya adik yang mendapat perhatian khusus. Lalu, bukalah kado tersebut bersama-sama. Kakak akan antusias sendiri dan bisa membagi ini kado untuk dia, ini kado untuk adiknya.


  1. Atur jadwal bermain 





Akan lebih mudah jika Bunda sudah mempersiapkan jadwal bermain kakak. Karena ketika adik lahir, otomatis waktu membersamainya tidak seperti dulu lagi, maka siapkan amunisi lebih awal, agar Bunda tidak kelabakan membagi waktu. Isi waktu bermainnya dengan permainan yang disukainya dan usahakan dalam proses bermain itu Bunda tidak hanya bertindak sebagai penonton dan tim hore. Tapi bermainlah bersama kakak. Misalnya, memetik bunga di taman komplek, bersepeda pagi, bermain eksperimen sains.


  1. Dahulukan kakak


Dia hanya makhluk kecil yang sedang belajar mengendalikan emosinya. Situasi baru ini tidak mudah untuk diterjemahkan kakak dengan cepat. Beberapa bunda mengeluh ketika hendak menidurkan adik, kakaknya kerap datang menganggu. Tips sederhananya adalah, sebelum menidurkan adik, bermainlah dahulu dengan kakak. 15 menit cukup, ketika tangki cinta si kakak sudah full, maka minta ijinlah dahulu untuk menidurkan adik, sehingga nantinya bisa dengan leluasa bermain lagi dengan kakak. Ini mungkin akan bertahap, ketika sudah jadi rutinitas, maka kakak akan memahami polanya.


  1. Manajemen emosi


Kakak adalah orang yang kerap menjadi sasaran amarah Bunda. Akan menjadi lebih sengsara ketika sang bunda pun mengalami baby blues. Penting mempersiapkan emosi. Boleh membaca buku-buku persiapan lahiran meskipun itu bukan kali pertama pengalaman Bunda melahirkan. Percayalah tiap kelahiran memiliki cerita masing-masing. Boleh konsultasi ke psikolog hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan.


  1. Support system


Pahami bahwa proses melahirkan bukan hanya peran seorang ibu. Tapi peristiwa penting dalam keluarga, ini merupakan andil team. Akan sangat dibutuhkan support system, baik itu dari suami, anak, orang tua dan keluarga. Belajar bersama, yoga bersama suami, suami pun bersedia membaca buku-buku tentang proses melahirkan, hal-hal yang dibutuhkan, apa perannya, dll. Tidak lupa komunikasi dengan orang tua atau mertua ketika Bunda memilih melahirkan di rumah salah satu dari mereka, maka penting mengomunikasikan proses kelahiran seperti apa yang Bunda inginkan, termasuk meminta tolong untuk ikut memahamkan kakak. Makin banyak yang mendukung kakak, maka sibling rivalry akan lebih bisa diminimalisasi.


Salah satu sumber kekuatan Bunda adalah support system. Maka jadikan kakak sebagai support system, bukan membuat wacana bahwa kakak adalah “pengganggu” dalam membersamai adik.


Selamat mencoba.



Salam,

Metanamama



Kontributor: Astuty Amir

Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

0 Komentar