Gigi Anak Berlubang? Ini yang Bisa Bunda Lakukan di Rumah

Jeli Memahami Tanda-Tanda

Saat memiliki anak, tidak lantas menjadi ahli dalam segala hal berkaitan dengan perlakuan atau pengasuhan anak. Ketika hadir anak pertama, mungkin segala sesuatu masih meraba-raba. Wajar saja! Karena ini merupakan pengalaman pertama. Tetapi ketika lahir anak kedua pun bukan berarti kita otomatis bisa memperlakukan anak dengan ahli. 

Gigi anak berlubang

 

Memang, beberapa pengalaman pada anak pertama bisa dijadikan acuan ketika merawat kelahiran anak kedua. Misalnya, seperti arti tangisan anak, apakah dia lapar, mengantuk, pipis, kepanasan, dan lain sebagainya. Namun terkadang, ada beberapa hal yang berbeda yang tidak bisa diperlakukan sama anatara anak pertama dan kedua.

Hal ini pun saya alami berbeda pada kedua anak saya. Saya akan menceritakan pengalaman saya terhadap kasus gigi yang dialami anak kedua saya, Ayyubi (4 tahun). Anak pertama saya, Haidar (6 tahun), kebetulan tidak mengalami masalah gigi, baik itu karies ataupun berlubang. 

Saya bahkan baru memperkenalkan sikat gigi kepada anak pertama saya setelah usianya sekitar 1 tahun (jangan ditiru, ya, Bunda :P ). Berbeda dengan anak kedua saya yang sejak awal kemunculan giginya sudah menunjukkan adanya tanda-tanda karies. Kesalahan saya adalah saya abai terhadap hal ini.

Tanda-tanda karies ini seharusnya sudah menjadi peringatan untuk saya agar lebih memperhatikan makanan dan kesehatan giginya. Akan tetapi, saya masih memperlakukan Ayyubi seperti saya memperlakukan Haidar. Seiring berjalannya waktu, saya pun menyadari bahwa gigi Ayyubi mulai semakin memburuk, karies gigi depannya semakin banyak dan gigi geraham mulai berlubang. Tanda-tanda berlubang ini diawali dengan adanya black spot atau terkadang juga white spot. Sampai pada tahap ini saya masih belum mengambil tindakan intensif. Saya baru sekedar menyikat giginya 2x sehari, pagi hari dan 1 kali sebelum tidur.


Kunjungan ke Dokter Gigi di Tengah Pandemi

Permasalahan muncul ketika kami tinggal di Thailand, di tengah masa pandemi pula. Tiba-tiba badannya hangat, dan dia mengeluh sakit gigi. Ketika saya cek, saya menemukan ada bengkak gusi. Saya pun mulai panik. Saya mulai mencari-cari dokter gigi anak di Thailand yang bisa kami jangkau dalam jarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Beberapa teman juga memberikan rekomendasi dokter yang terpercaya. Sebelum kami memutuskan untuk mengunjungi dokter tersebut, kami pun berusaha menghubungi teman, atau kenalan yang berprofesi sebagai dokter gigi di Indonesia dan berdiskusi tentang kasus Ayyubi tersebut.

Mengingat ini akan menjadi pengalaman pertama Ayyubi pergi ke dokter gigi, maka saya harus mempersiapkan beberapa skenario agar dia tidak kaget dan memberi imaji positif terhadap dokter gigi. Skenario ini berisi tentang apa, siapa, mengapa dan bagaimana dokter gigi. Saya jabarkan dalam bentuk tulisan, gambar, dan diagram. Hal ini saya diskusikan dengan Ayyubi termasuk kemungkinan rasa sakit yang akan diterima.

Setelah melakukan briefing, kami menentukan waktu kunjungan. Kendala yang kami alami ketika menggunakan fasilitas umum di sini adalah bahasa. Keterbatasan bahasa yang kami miliki sedikit menghambat komunikasi dua arah antara kami dengan dokter, akan tetapi masih bisa dimengerti. Untungnya kondisi pandemi di Thailand sudah membaik. 

Beberapa rumah sakit sudah buka dan melayani pasien umum, sudah tidak terlalu ketat dengan protokol kesehatan karena memang transmisi lokal virus sudah tidak terjadi. Akan tetapi, untuk teman-teman yang berada di daerah dengan resiko covid-19 yang masih tinggi, Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia menyarankan untuk menunda kunjungan ke dokter gigi kecuali kondisi darurat. Kondisi darurat yang disebutkan adalah: bengkak gusi, gusi bernanah/berdarah dan disertai demam. Jika belum sampai kondisi darurat, konsultasi bisa dilakukan secara online.

Dari hasil pemeriksaan, Ayyubi dinyatakan mengalami gigi berlubang dan didiagnosa sudah menyerang akar, sehingga disarankan untuk melakukan X-ray. Diagnosa ini cukup membuat saya terkejut. Terlebih ketika dokter melihat hasil X-ray dan memutuskan untuk melakukan pencabutan gigi Ayyubi, saya semakin bingung. Untungnya sebelumnya saya sudah berdiskusi dengan suami tentang hal ini dan kami sepakat untuk tidak melakukan pencabutan terhadap gigi Ayyubi, sehingga kami menolak tindakan tersebut. Pihak rumah sakit cukup kooperatif dengan mengijinkan pasien mengambil keputusan menolak tindakan atas saran dokter. 


Gigi anak berlubang

Gigi Geraham Berlubang Sampai Akar

Pertimbangan kami untuk tidak mencabut gigi Ayyubi adalah karena gigi yang berlubang itu adalah gigi geraham. Saya mengikuti beberapa webinar, dan konsultasi dengan beberapa dokter gigi terkait hal ini, untuk pencabutan gigi berlubang bagian geraham memiliki beberapa resiko, salah satunya posisi gigi geraham ini nantinya akan mengganggu pertumbuhan gigi geraham lain. Sementara pelepasan secara alami akan terjadi di usia 11 tahun. Ini masih sangat jauh, mengingat usia Ayyubi masih 4 tahun. Sehingga jika akan dilakukan pencabutan, maka perlu dilakukan pemasangan gigi buatan yang akan tetap mempertahankan posisi gigi agar pertumbuhannya tidak saling mempengaruhi posisi gigi lainnya. 

Saya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang apa yang harus saya lakukan di rumah ketika anak mengalami gigi berlubang dan tidak dilakukan pencabutan? Ada 3 hal yang harus diperhatikan:

1.    Periksa rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali

Beberapa orang tua termasuk saya sering abai dengan himbauan ini. Kita seringnya ke dokter gigi hanya ketika sakit gigi, padahal jika ketika sakit gigi baru ke dokter, maka yang anak rasakan adalah ketidaknyamanan dan imaji negatif terhadap dokter gigi. Karies gigi atau gigi berlubang pada anak sangat bisa ditangani sejak dini sebelum terjadi karies atau lubang itu sendiri jika terdeteksi lebih awal. Pemeriksaan 6 bulan sekali memainkan peran penting di sini. Jadi jangan ragu untuk membawa anak ke dokter gigi sekalipun belum terlihat tanda-tanda kerusakan gigi, ya, Moms.

2.    Memperhatikan asupan makanan

Pembentukan organ-organ tubuh manusia sudah terjadi sejak ibu hamil, termasuk gigi. Asupan gizi ibu hamil sangat berefek pada kesehatan gigi anak. Jadi ternyata, kerusakan gigi anak itu tidak semata-mata karena anaknya suka makan manis saja, tapi bisa jadi sejak ibunya hamil juga kurang memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. 

Benar adanya bahwa makanan manis mengandung gula sangat mempengaruhi kesehatan gigi anak, terlebih yang lengket, ya, Moms! Kaena makanan ini akan mudah sekali menempel di gigi dan susah lepas. Nah, ternyata selain makanan manis, semua makanan yang rendah serat dan mengandung indeks glikemik tinggi seperti makanan yang berasal dari gandum juga berpotensi mendukung percepatan kerusakan gigi. Hal ini terjadi karena adanya lonjakan gula di dalam darah dan ini tertransfer ke seluruh pembuluh darah, termasuk yang ada di dalam mulut dan gusi. 

Wah, dari sini saya mulai menyadari selama di Thailand, konsumsi gula Ayyubi memang meningkat. Mulai dari permen, biskuit bergula, roti tawar+selai cokelat, macaroni, mi, dan lain-lain. Sejak adanya kejadian ini, saya mengganti semua camilan Ayyubi dengan kacang-kacangan dan buah-buahan. Mulai dari biji bunga matahari, kacang tanah, kacang mete, jikalau makan roti pun saya memilih roti whole grain dan dibuat sandwich. Cara ini banyak berpengaruh pada Ayyubi, terbukti selama 4 bulan ini dia tidak lagi mengalami bengkak gusi, atau mengeluh sakit gigi. Secara fisik juga tidak terlihat adanya penambahan karies pada giginya.

3.    Memperhatikan kebersihan gigi

Kebersihan gigi ini semestinya sudah bisa dimulai sejak bayi bahkan ketika bayi masih menyusu ASI, dan lagi-lagi saya tidak melakukannya. Ah, ini penyesalan dan rasa bersalah terbesar saya. Dari berbagai sumber saya mendapatkan ilmu bahwa menjaga kebersihan gigi itu cukup dengan menyikat gigi 2 kali sehari yaitu pagi setelah makan dan malam sebelum tidur seperti yang disarankan oleh dokter gigi. 

Akan tetapi itu tidak cukup berlaku untuk anak yang terlanjur mengalami kerusakan gigi. Kebersihan gigi harus sangat diperhatikan sampai detail. Saya melakukan pembersihan gigi Ayyubi 5x dalam sehari, yaitu pagi setelah sarapan, setelah ngemil pagi, sebelum tidur siang, setelah ngemil sore, dan sebelum tidur malam. 

Praktisnya, saya selalu membersihkan giginya setelah makan sehingga di waktu-waktu jeda dia tidak makan, konsisi gigi bebas dari makanan yang menempel. Saya juga menyediakan alat pembersih gigi seperti yang ada di dokter gigi untuk memudahkan saya melihat kebersihan gigi bagian dalam. Dan cara ini pun efektif untuk menunda penambahan kerusakan gigi anak saya. Pemilihan pasta gigi juga penting untuk anak dengan gigi berlubang. Pasta gigi berfluoride, tanpa penambahan gula dibutuhkan untuk pembersihan gigi berlubang.

Sekian dulu, ya, Moms cerita pengalaman gigi berlubang pada anak, semoga bermanfaat dan sehat selalu.


Salam,

Metanamama

 

Kontributor: Heny Ratrie

Editor: Vivi Ermawati

Posting Komentar

0 Komentar