Sudah dua hari ini suami ada tugas ke luar kota. Selama ini kami saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Pagi hari sebelum suami berangkat mengajar, ia akan membantu mencuci pakaian. Nanti aku tinggal menjemur. Atau sebaliknya, suami yang membuat sarapan, aku mencuci baju dan piring. Fakhira putri sulungku berangkat sekolah bersama abinya. Meskipun tidak satu arah, tetapi suami mengantar Fakhira dulu ke sekolahnya, baru ia berangkat ke tempatnya mengajar.

Komunikasi Singkat dan Simpel

 

Dua hari ini aku merasakan sangat kerepotan. Pagi hari sibuk menyiapkan sarapan, menyiapkan Fakhira berangkat sekolah. Menyiapkan bekal dan mengantar Fakhira sekolah. Belum lagi anak keduaku Ilyas, yang biasanya ikut sibuk ketika, semua terlihat sibuk.

Minggu pagi, aku berangkat ke pasar. Biasanya diantar suami, jadi kedua anakku ikut juga. Tapi karena hari ini tidak diantar, kuminta anak-anak menunggu di rumah, karena kuperkirakan hanya sebentar di pasar. Kebetulan ada daganganku berupa baju-baju anak yang baru datang, jadi kuminta Fakhira dan Ilyas masing-masing memilih satu baju untuk mereka. Jadi mereka bisa anteng di rumah karena asyik memilih baju. Kalaupun berantakan hanya dagangan yang tidak terlalu banyak, begitu fikirku.

Sepulang dari pasar aku sangat terkejut melihat keadaan rumah, mainan bertaburan, berbagai puzzle berserakan bercampur baur, pensil warna, spidol, crayon, cat air dan buku-buku turun semua dari rak buku. Ditambah daganganku juga berserakan. Biasanya kalau mereka bermain, tidak semua mainan di gunakan, selesai mainan yang satu, dibereskan baru mengambil mainan yang lain. Begitu pula jika mewarnai, tidak semua alat mewarnai digunakan. Tapi kali ini luar biasa sekali, ditambah remah-remah roti bertaburan. Padahal tidak sampai 30 menit kutinggal ke pasar.

Segera kuselamatkan terlebih dahulu barang-barang dagangan. Setelah itu, kuberi mereka sarapan sate padang yang dibeli di pasar. Setelah sarapan kuperintahkan anak-anak untuk membereskan mainannya.

"Mbak Fakhira tolong maianannya dibereskan ya, ummi mau masak." Sambil membawa belanjaan ke dapur.

Untuk membereskan puzzle yang tercampur, Fakhira yang lebih faham, pasangan potongan-potongan puzzle tersebut.

Karena aku kurang suka sate padang, jadi aku harus segera memasak untuk sarapan agar emosi terjaga, karena perut yang lapar lebih mudah tersulut emosi. Ketika sedang menumis bumbu, aku mendengar suara anak-anak bermain di luar. Waduh perintah tidak dilaksanakan nih, begitu fikirku. Aku segera sarapan begitu masakan matang. Setelah sarapan aku mencuci piring yang menggunung. Ketika sedang mencuci piring, Fakhira masuk dapur

"Mbak Fakhira, mainannya sudah dibereskan?" tanyaku

"Belum mi, banyak banget beresinnya, nanti mbak Fakhira capek," jawabnya sambil tersenyum.

"Ya sudah, kalau begitu beresin dulu alat mewarnai," ujarku.

Fakhira pun meninggalkan dapur. Kuintip ruangan depan, terlihat Fakhira sedang mengambil spidol yang tercecer dan memasangkan dengan tutupnya. Rupanya begini seharusnya memberi perintah, sedikit-sedikit. Tidak lama kemudian Fakhira kembali ke dapur.

"Sudah selesai mi beresin alat mewarnai,"

"Oke sip pintar. Sekarang bereskan puzzle-nya ya, kalau tidak bisa naro di atas rak, nanti ummi aja yang naro," perintah berikutnya.

Fakhira kembali lagi ke ruang depan. Tak lama kemudian ia kembali ke dapur dan laporan.

"Udah selesai mi, tapi resa yang angka 3 dan 11 tidak ada,"

"Oke mbak Fakhira hebat,  angka 3 dan 11 nya mungkin terselip di bawah buku-buku," ujarku

"Ya udah mbak mau beresin buku-buku dulu ya mi," ujar Fakhira yang membuatku senang, tidak perlu disuruh untuk membereskan buku.

"Mi, bukunya ada yang basaaaah," teriak Fakhira dari ruang depan.

"Yaudah dilap aja pake tisu," ujarku setengah berteriak sambil masih meneruskan mencuci piring.

Tidak lama kemudian Fakhira kembali lagi ke dapur.

"Mi, angka 3 sama 11nya tidak ada," ujarnya pelan.

"Bukunya sudah dibereskan semua?" tanyaku. 

"Ya sudah, nanti ummi yang mencari, mudah-mudahan ketemu."

Selesai mencuci piring, aku ke ruang depan. Alhamdulillah semua udah dibereskan, aku hanya tinggal menggulung karpet, menyapu dan mengepel. Ternyata angka 3 dan 11 yang dicari ada di bawah karpet. Bantuan Fakhira sangat bermanfaat, tak lupa kuucapkan terimakasih padanya.

Salah satu kunci komunikasi efektif dengan anak adalah menggunakan kalimat perintah yang pendek dan simpel. Terkadang kita memberi perintah terlalu banyak dan beruntun, misalnya:

"Kakak cepet bereskan semua mainan yang berantakan, terus mandi, handuknya jangan diletakkan diatas kasur!'

Kalimat perintah diatas terlalu banyak, sehingga sulit dicerna dan membuat anak malas untuk melaksanakannya. Ubahlah menjadi perintah tunggal, setelah selesai baru lanjutkan ke perintah selanjutnya.


 

Artikel ditulis oleh Nur Hasanah