Mengisi liburan dengan menonton film bersama keluarga adalah hal yang menyenangkan. Dari banyaknya film yang saya tonton selama akhir pekan kemarin, saya tertarik dengan film “Soul”. Saya pribadi menangkap bawah ide besar dari film ini adalah tentang rasa syukur atas apa yang kita dapatkan dan bagaimana cara menikmati setiap detik dari kehidupan.
Joe Gardner, tokoh utama yang ingin menjadi musisi Jazz. Suatu hari dia sangat senang ketika impiannya untuk tampil bersama musisi Jazz terkenal, Dorothea Williams hampir terwujud. Namun tiba-tiba dia mendapatkan musibah dan ada di dunia roh, yang mana dia sedang menunggu giliran untuk pergi ke alam setelah kematian. Dia tidak bisa menerima. Oleh karena itu dia lari dan terjebak menjadi mentor untuk roh yang belum dilahirkan. Dia harus membimbing roh tersebut untuk menemukan “spark” yang menjadi tujuan untuk bisa lulus dan dilahirkan ke bumi. Momen mereka saling berdebat dan berbagi dikisahkan dengan menarik dan lucu.
Pesan dalam film ini mengajarkan banyak hal, salah satunya bahwa sebagai orang tua kita harus menaruh kepercayaan kepada anak untuk memutuskan jalan hidup dan melakukan yang membuat berbinar. Orang tua dalam kehidupan seorang anak adalah guru dan mentor. Saya membagi 2 fase peran dalam hidup anak saya. Fase pertama, saat usianya 0 sampai 7 tahun, saya harus menjadi guru yang menginstal semua fitrah keimanan, akhlak dan menguatkan karakternya. Fase yang kedua adalah ketika anak melewati usia 7 tahun sampai seumur hidupnya, maka saya mengambil peran sebagai mentor baginya, di mana saya hanya akan mendampingi, mengarahkan dan menasehati sesuai kadar yang diperlukan. Ketika menjadi guru, saya memilihkan mana hal penting yang harus saya ajarkan kepadanya. Namun ketika menjadi mentor, anaklah yang memilih mana hal yang ingin dia kuasai sebagai bekal hidupnya.
Sebagai orang tua, kadang kita harus siap mendengar bahwa anak kita berbinar di bidang yang menurut kita tidak akan membawa hidupnya kemana-mana. Seperti yang dipikirkan oleh ibunya Joe.
“Kau tak bisa makan impian untuk sarapan, Joey.”
Sebagai bentuk sayang dan khawatir, ibu Joe tidak terlalu suka jika Joe berkecimpung dalam dunia musik tanpa pekerjaan yang mapan. Tipikal orang tua bukan?! Kita khawatir kehidupan anak akan susah jika tidak terjamin secara finansial. Sampai akhirnya, Joe yang saat itu jiwanya diisi oleh roh yang belum lahir, menjelaskan kepada ibunya tentang alasan dia menyukai Jazz, bahwa kecintaannya pada musik bukan sekedar untuk karir tapi membuatnya merasa hidupnya lebih berarti.
Baca Juga: Sabar, Semua ini Hanya Sebentar
Ada adegan ketika Connie, salah satu murid Joe kehilangan motivasi untuk belajar musik, 22 mengajaknya berbicara lebih jujur dan terbuka. Ternyata Connie hanya butuh sedikit dorongan dan kepercayaan pada dirinya sendiri bahwa dia mahir di bidang itu. Sama seperti anak-anak kita yang kadang merasa tidak mampu melakukan sesuatu yang sudah biasa mereka lakukan. Kita sebagai orang tua kadang salah menanggapi keluhan. Kita malah memojokkan mereka. Menganggap mereka mudah menyerah, padahal pada kenyataannya, mereka hanya merasa kehilangan sesuatu yang menantang sehingga kehilangan kepercayaan bahwa inikah yang ingin mereka lakukan. Hal yang harus kita lakukan adalah mendengarkan mereka dan memberi sedikit dorongan sebagai bentuk kepercayaan, bahwa apa pun keputusan mereka, kita akan tetap mendukungnya.
Di banyak kesempatan, saya pribadi selalu berhasil membuat anak saya bersemangat dengan apa yang sudah dia lakukan. Misalnya, ketika dia tidak mau berangkat ke rumah tahfidz karena merasa bahwa menghafal itu susah, yang pada kenyataannya, dia salah satu anak yang saya anggap mudah sekali mengingat ayat, saya akan bilang, “Okay, kita tidak akan berangkat jika itu membuatmu lebih nyaman”. Setelah itu biasanya dia akan mulai bercerita alasannya dan saya hanya akan mengamini setelah mendengar semua ceritanya. Luar biasanya, dia akan mengatakan “Mungkin sebaiknya aku pergi ngaji”. Lalu saya hanya akan mengatakan “Kita lakukan semuanya dengan pelan-pelan saja, yang paling penting kita sudah berusaha”.
Pada adegan lain yang menarik adalah saat Joe bertemu dengan temannya si tukang cukur, Dez dan Paul. Dari Dez kita bisa ajarkan pada anak bahwa meskipun kita tidak bisa meraih impian, kita masih bisa mengubah impian pertama pada impian berikutnya dengan totalitas yang sama agar kebahagiaan tidak hilang dalam hidup kita. Pada karakter Paul, kita bisa mengajarkan kepada anak bahwa jangan pernah merendahkan seseorang hanya agar kita tampak tinggi. Menghina mimpi seseorang untuk menutupi kegagalan kita meraih impian.
Untuk adegan terakhir yang tidak kalah menarik adalah saat Dorothea menceritakan pada Joe kisah ikan muda yang mencari lautan padahal dia sedang berada didalamnya. Si ikan berpikir bahwa ini hanya air, bukan lautan. Ya, tidak terasa kita hidup terlalu fokus dengan tujuan, sehingga kita lupa untuk menghargai proses dan keberhasilan kecil yang kita buat.
Dari film ini banyak hal yang bisa kita ajarkan kepada anak, salah satunya adalah untuk terus berusaha mencintai proses, merayakan keberhasilan dalam proses itu, lalu jangan lupakan api yang membuat kita tetap bersinar. Hidup bukan sekedar tentang tujuan, tapi juga tentang memaknai perjalanan.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Junani
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar