Mengukur Baju Kita di Badan Orang Lain

"Anak baru satu udah gak sempet masak? Liat saya nih, anak tiga masih kecil-kecil gak pernah beli makanan mateng. Masak sendiri, dijamin higienis dan sehat," ujar Bu Septi pada Harum, seorang ibu muda yang baru sebulan melahirkan.



"Kamu kan gak kerja, kenapa nyetrika aja pake bayar orang, sih? Kakak aja yang kerja, masih kepegang semua kerjaan rumah. Jangan boros jadi istri," ujar Yanti pada Sinta adik iparnya.


"Ya ampun rumah kok berantakan begini sih, padahal anak baru dua. Aku aja anak tiga hiperaktif semua, rumah masih bisa rapih. Anak itu jangan dijadikan alasan, itu mah gimana kitanya aja," ujar Hana pada sepupunya, Rani.


"Ya ampun Rida, kamu udah kelas dua, masih belum bisa membaca juga. Ngapain aja ibumu di rumah, kok kamu gak pernah diajarin membaca?" Ujar Bu Risma pada Rida, anak tetangganya.


Mungkin kita sering mendengar ucapan-ucapan seperti itu di sekitar kita. Atau bahkan kita yang menjadi korban mendapat lontaran seperti itu. Atau mungkin tanpa kita sadari, kita malah menjadi pelaku, mengucapkan pertanyaan bernada nyinyir kepada orang lain.

Jangan pernah membandingkan orang lain dengan diri kita, karena kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Bisa jadi orang yang terlihat malas membereskan rumah dan memasak, dia sibuk berjualan online untuk membantu perekonomian keluarganya.

Bisa jadi, orang yang terlihat pemalas, menyetrika saja membayar orang, dia bermaksud menolong tetangganya yang membutuhkan pekerjaan.

Bisa jadi, rumah tetangga yang selalu terlihat berantakan, ia berprinsip tidak masalah anaknya bereksplorasi dan bermain dengan bebas di rumahnya.

Bisa jadi orang yang terlihat tidak memperhatikan pendidikan anaknya, tidak mengajari anaknya belajar, ia sibuk membantu suaminya mencari nafkah, sibuk membereskan pekerjaan rumah sepulang bekerja, sehingga tidak sempat mengajari anaknya.

Tiap keluarga memiliki prioritas yang berbeda-beda, punya visi dan tujuan yang berbeda. Jangan pernah membandingkan keluarga kita dan keluarga orang lain. Jika tidak bisa membantu, janganlah berprasangka negatif, apalagi sampai berkomentar menyakitkan. Karena kita hanya melihat dari satu sisi saja.

Salam,

Metanamama



Kontributor: Nur Hasanah

Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

0 Komentar