Menasihati Anak

Sudah sekitar dua hari, Fakhira tidak bermain bersama teman-temannya dan hanya bermain di rumah bersama adiknya. Tumben, biasanya kami belum sarapan, teman-teman Fakhira sudah memanggil. Begitu pula siang setelah salat Zuhur.


"Mbak, kok Ita dan Nia gak main ke sini?" tanyaku pada Fakhira.

"Lagi marahan," jawabnya pendek.

"Lho marahan gara-gara apa?"


Biasanya walaupun mereka marahan, beberapa jam saja sudah kembali akur, tidak pernah sampai hitungan hari.

Ternyata beberapa hari yang lalu, Ita dan Nia mengajak Fakhira bermain zombie-zombie-an, Fakhira tidak mau, teman-temannya marah.

Fakhira adalah tipe anak yang jarang marah, tapi sekalinya marah atau sakit hati dia bakal tahan berlama-lama. Dia juga tipe orang yang gengsi untuk meminta maaf, meskipun terkadang ia yang salah.

"Nak, dalam Islam itu, boleh kok kita marah sama teman, boleh kita mendiamkan teman, tidak menyapa. Tapi paling lama hanya tiga hari. Setelah itu harus saling memaafkan," ujarku pelan-pelan menasihatinya. Sambil aku bacakan hadisnya. 

Fakhira hanya diam tertunduk. Mungkin dia bingung, mau minta maaf gengsi, tidak minta maaf dia melanggar aturan Allah.

Baca Juga: Mengukur Baju Kita di Badan Orang Lain

"Mbak udah marahan berapa hari sama teman-teman?" tanyaku.

"Tiga hari," jawabnya pelan.

"Memaafkan itu artinya mbak Fakhira sudah gak marah lagi sama teman-teman, sudah mau menyapa lagi, sudah mau main bareng lagi, meskipun gak ada kata aku minta maaf ya, langsung aja menyapa teman dan main bareng," ujarku memberi solusi, karena aku tahu Fakhira pasti tidak mau meminta maaf, apalagi dia merasa tidak bersalah.

"Gak papa gak minta maaf juga?" tanyanya sambil tersenyum.

"Iya gapapa, temen-temen juga gak perlu minta maaf, langsung main bareng aja."

"Ya udah, mbak mau jajan dulu, minta uang," ujar Fakhira gembira. Aku tahu maksud Fakhira. Warung bude tempat ia jajan berada di depan rumah Ita, sambil jajan ia akan menyapa Ita dan Nia.

Benar saja, sepulang dari jajan, Ita dan Nia ikut ke rumah kami dan main bersama Fakhira kembali. Alhamdulillah.

Ternyata berkata maaf tidak hanya berat diucapkan oleh orang dewasa, anak-anak pun demikian. Apalagi jika merasa tidak punya kesalahan.

Menasihati anak butuh ilmu. Agar nasihat kita tidak masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Berdasarkan buku Cara Nabi Mendidik Anak karya  Dr. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, ada beberapa cara menasihati anak:

1. Menampilkan suri teladan yang baik.

Ini penting sekali, jika kita menasihati anak tanpa contoh dari orang tua, anak akan melihat kita sebagai orang yang omdo, alias omong doang. Misalnya, kita melarang anak terlalu lama bermain HP, tapi kita sendiri tidak pernah lepas dari HP. Nasihat tidak akan mempan. Kalau pun anak melaksanakan perintah kita, ia melaksanakan dengan keterpaksaan.

2. Menceritakan kisah-kisah.

Menasihati dengan mengambil hikmah dari kisah terdahulu lebih efektif daripada kita mengomel tanpa arah. Selain itu, kisah-kisah orang saleh juga membuat kita makin memperbaiki diri.

3. Berdialog dengan anak.

Jika anak melakukan kesalahan, jangan buru-buru mengomel atau menyalahkan. Kita eksplorasi dulu apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang kita sebagai orang tua langsung terpancing emosi. Misalnya, sang adik menangis keras dan melapor dipukul oleh kakaknya ketika sedang bermain. Tanpa meminta penjelasan dari si kakak, kita sudah langsung memarahinya.

4. Berbicara sesuai kadar akal anak.

Terkadang kita lupa, berapa usia anak kita. Kita meminta mereka untuk bersikap dewasa. Kita meminta anak untuk mengerti kita yang lelah, padahal kita yang seharusnya mengerti mereka.


Salam,

Metanamama


Referensi: Prophetic Parenting, Cara Nabi Mendidik Anak. Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Pro-U media. 2010



Kontributor: Nur Hasanah

Editor: Vivi Ermawati





Posting Komentar

0 Komentar