Pernahkah mendapatkan pertanyaan dari anak-anak mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa ta’ala? Jika ya, jawaban apa yang tepat untuk diberikan?
Tak sedikit orang tua mengalami kebingungan saat mendapatkan pertanyaan dari anak tentang Allah, apalagi tentang keberadaan Allah dan bagaimana bentuk Allah. Jika merujuk pada tahapan anak usia dini menurut Jean Piaget, pada usia 2-7, yaitu praoperasional. Tahapan ini dibagi menjadi dua, yaitu subtahap fungsi simbolik dan subtahap berpikir intuitif.
Dalam subtahap simbolik, anak memiliki kemampuan untuk membayangkan objek yang tidak hadir secara fisik. Imajinasi mereka luas merepresentasikan dunia dalam bentuk kata-kata dan gambar. Sedangkan subtahap berpikir intuitif cenderung memiliki kemampuan menggunakan nalar untuk mengetahui banyak hal baru. Walaupun demikian, anak belum mampu untuk menyelesaikan masalah dan masih memiliki kesulitan memahami peristiwa yang terjadi namun tidak dapat dilihatnya, karena fantasi anak masih kurang memiliki keterkaitan dengan realitas.
Berdasarkan tahapan tersebut, anak-anak tentu tidak bisa diajak untuk mengenal Allah dengan cara yang sama dengan orang tua. cara berpikir mereka menuntut orang tua untuk mengolah kata, kalimat atau ungkapan yang tepat tentang Allah agar tidak keliru.
Orang tua bisa melakukan satu pembiasaan pada anak sebagai jalan mengenal Allah, yaitu melalui doa.
Sebagai umat muslim, doa adalah bagian yang tak terpisahkan dari seluruh aspek kehidupan. Berawal dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur kembali di malam hari, doa selalu menyertai seluruh aktivitas umat muslim. Pembiasaan tidak bisa hanya dilakukan oleh anak seorang diri tanpa didampingi oleh orang tua. Berikut enam langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk membiasakan anak berdoa:
1. Biasakan diri sebagai orang tua selalu mengucapkan basmalah sebelum memulai aktivitas apa pun dan hamdalah setelah selesai. Basmalah dan hamdalah adalah doa yang paling sederhana, namun sangat bermakna bagi keberkahan di setiap aktivitas.2. Mulailah dengan doa yang mudah diingat, yaitu doa sebelum makan dan sebelum tidur. Mengapa? Karena kedua doa ini berada di saat yang tepat untuk sekaligus mengikat bonding di antara orang tua dan anak.
3. Jika memungkinkan kenalkan sejak anak masih dalam kandungan, artinya tidak ada waktu khusus kapan doa sebaiknya diperkenalkan pada anak. Sebisa mungkin lebih cepat dikenalkan lebih baik.
4. Ajarkan anak adab berdoa dengan menengadahkan kedua tangan selayaknya doa adalah permohonan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
6. Sediakan waktu khusus untuk mengobrol bersama anak-anak tentang makna-makna doa harian yang telah dilakukan. Hal ini untuk memperdalam pemahaman mereka tentang doa sekaligus pengenalan pada Allah.
Doa adalah aktivitas tanpa jarak antara seorang hamba dengan Tuhannya. Doa memiliki kekuatan jika dilakukan dengan penuh keyakinan dari seorang hamba terhadap Tuhannya. Tidak ada tempat bergantung yang terbaik selain pada Tuhan, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, melalui doa anak-anak bisa belajar mengenal Allah lalu kemudian pembiasaan doa kelak mampu menumbuhkan cinta kepada-Nya.
Kontributor: Syifa Achyar
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar