Suatu pagi, aku dikejutkan oleh putri sulungku yang tengah menahan tangis di atas sofa. Dia menatapku dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sampai akhirnya air mata itu tak terbendung lagi dan tumpah bersama suara tangisannya yang memecah kesunyian. Dia menutup lutut kirinya dengan tangan mungilnya.
Tanpa mengatakan apa pun, aku tahu bahwa dia sedang terluka. Segera kubersihkan luka dan membalutnya.
“Bunda, nanti kalau plesternya dibuka apa darahnya akan keluar lagi?” tanyanya.
“Insyaallah sudah enggak, karena kalau sudah diobati dalam waktu beberapa jam darah itu akan membeku. Jadi kemungkinan sudah tidak mengalir lagi. Tinggal menyembuhkan sakit memarnya saja, Kak,” jelasku.
“Oh, gitu. Memangnya kenapa si Bun, kalau kita luka, kok keluar darahnya?”
“Kan, kulit kita terkelupas kalau terluka. Di bawah kulit kita ada darah yang mengalir dalam tubuh kita. Jadi kalau kulit kita terkelupas, maka darah itu akan mengalir keluar, deh.”
“Terus kenapa kita harus punya darah, Bun? Enggak air saja?”
Pertanyaannya terus saja keluar dari bibir kecilnya.
“Darah itu penting, lo. Manfaatnya banyak banget, Kak. Tugas darah itu mengangkut nutrisi dari makanan yang kita makan ke seluruh tubuh. Membawa oksigen dari pernapasan kita. Supaya tubuh kita ini tetap sehat. Coba kalau enggak punya darah, bagaimana coba tubuh kita bisa dapat vitamin? Walaupun kita sudah makan makanan yang bergizi kalau enggak ada yang mengangkut gizi ke seluruh tubuh, ya sama saja kita enggak pernah dapat gizi. Sedangkan yang bertugas mengangkut gizi itu, kan, darah. Jadi gitu Kak, kenapa kok kita punya darah. Hebat ya, Allah, Dia menciptakan kita sudah lengkap dengan alat bantunya tanpa kita harus bikin atau beli!” jelasku penuh semangat.
“Tapi kenapa warnanya merah? Aku kan, jadi takut,”
“Lah, kenapa takut? Baju Kakak kan banyak yang warna merah? Jadi yang Kakak takutkan itu warna merahnya atau darahnya?”
Dia menggeleng tanda tidak mengerti. Aku mencoba memahaminya, anak-anak memang sering seperti itu, takut tanpa alasan. Mungkin karena kengeriannya sendiri. Namun, daripada menuruti rasa takutnya, aku memilih untuk mengajaknya berpikir positif dan kritis. Aku memberinya penjelasan, hingga suatu saat nanti dia benar-benar akan memahami hakikat darah pada manusia.
“Darah berwarna merah itu karena dalam darah itu ada protein, namanya hemoglobin yang di dalamnya terdapat sebuah zat tertentu yang menjadikan darah kita berwarna merah. Hemoglobin inilah yang punya tugas mengikat oksigen. Tau, kan, kalau oksigen didapat dari udara bersih yang kita hirup?”
“Apa merahnya darah kita dari oksigen, Bun?”
“Hehe … ya, kira-kira begitulah. Makanya orang yang merokok itu darahnya enggak merah terang. Enggak sehat, karena dia memasukkan asap ke dalam tubuhnya. Bahaya, kan?”
“Iiiih ... enggak mau, ah, deket-dekat orang merokok.”
“Betul banget, Kak. Siiiip.” Kuacungkan kedua jempolku.
Baca Juga: Review Buku My First Book Of The Human Body
Dear Ayah Bunda,
Pernahkah Ayah Bunda berpikir mengapa manusia memiliki darah?
Hal-hal kecil seperti ini biasanya luput dari perhatian dan pemikiran kita. Meskipun kita sendiri sudah sangat memahami fungsi dan peran darah dalam tubuh kita. Hanya saja, dunia ini telah berhasil melenakan kita untuk berpikir dan merenungi ciptaan Allah yang ada dalam diri kita sendiri.
Sedikit saja tubuh kita bekerja dengan kurang stabil, maka dampaknya bisa langsung kita rasakan. Ya, sakit. Kita akan sakit jika metabolisme dan berbagai sistem dalam tubuh kita terganggu. Aku pun menjadi berpikir mendalam setelah mendapat pertanyaan seperti ini dari putri sulungku. Betapa banyak nikmat-Nya yang telah lalai aku syukuri.
Fitrah anak-anak yang selalu ingin tahu akan semua hal yang ia temui sebenarnya membawa pada sebuah fitrah keimanannya. Lalu, mengapa orang dewasa seperti kita justru sering menepiskan fitrah iman ini?
Manusia termasuk makhluk vertebrata yang memiliki darah berwarna merah. Secara rinci, setiap protein hemoglobin terbuat dari sub unit yang dinamakan hemes. Hemes dapat mengikat molekul besi, dan molekul besi inilah yang mengikat oksigen. Sel-sel darah berwarna merah karena interaksi yang terjadi antara besi dan oksigen.
Saat darah mengalir melalui paru-paru, darah mengambil oksigen untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Darah juga mengangkut bahan sisa metabolisme dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan dibawa ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.
Betapa pentingnya fluida bernama darah ini berada dalam tubuh kita. Allah telah menjadikannya ada dalam tubuh kita sebagai zat yang memiliki peran dan fungsi sangat penting dalam tubuh dan kehidupan manusia.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Triamiyati
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar