Waspada Double Parenting!

Parenting adalah cara mendidik atau mengasuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak. Seorang ibu dan ayah perlu memiliki visi misi yang sama saat mengasuh anak. Kedua peranan tersebut tidak hanya sama namun juga harus seimbang atau setara. Jika seorang anak bisa menghabiskan waktu bermain bersama ibu, maka begitu pula dengan sang ayah. Hal ini untuk mencegah terjadinya double parenting atau yang biasa disebut pola asuh ganda. 

Parenting semestinya tidak hanya berlaku untuk orang tua, namun juga orang dewasa lain yang berada satu tempat tinggal bersama anak. Misalnya kakek, nenek, paman, dan bibi. Jika tinggal terpisah dalam lingkup keluarga kecil tersendiri, tentu lebih mudah meminimalisasi terjadinya double parenting atau pola asuh ganda.

Pola asuh ganda memiliki dampak yang tidak sedikit dan tidak bisa disepelekan begitu saja. Anak-anak yang mengalami pola asuh ganda kerap tak memahami sebuah aturan karena seringnya merasa bingung dengan aturan atau kesepakatan yang ada. Hal ini dikarenakan ibu dan ayah memiliki sikap yang berbeda saat memutuskan suatu perkara.


Contoh kasus 1:

“Jangan makan permen!” perintah sang Ibu.

“Nih, Ayah pulang bawa permen,” kata Ayah sembari mengeluarkan beberapa butir permen dari dalam saku bajunya.


Contoh kasus 2:

“Bu, bolehkah aku beli mainan?” tanya sang Anak.

“Kalau tidak hari ini bagaimana?” tawar sang Ibu.

Belum sempat tawaran Ibu mendapat jawaban dari anak, tiba-tiba Ayah menyela, “Mau beli apa, sih? Ayo, kita mampir ke toko mainan!” ajak sang Ayah.


Jika melihat dari percakapan dua kasus tersebut ternyata memiliki kesamaan situasi, di mana kedua orang tua berbeda dalam memberi tindakan terhadap anak. Untuk itulah perlu bagi pasangan suami istri mendiskusikan pola asuh untuk anak-anak untuk jangka waktu yang panjang. Tips yang bisa dilakukan terlebih dahulu adalah sebagai berikut:


  1. Atur waktu bersama pasangan untuk berbicara mengenai visi misi dalam mengasuh anak.

  2. Buatlah beberapa poin secara garis besar pola asuh dari yang paling mudah.

  3. Samakan pemahaman agar tujuan berikut cara pola asuh yang diterapkan tidak berbeda.

  4. Sepakati beberapa hal yang akan disepakati juga nantinya bersama anak.

  5. Pastikan bahwa setiap apresiasi yang diberikan untuk anak tidak terlewat dan dalam bentuk yang serupa. Misalnya kita bisa bersepakat kapan diberi pujian dan kapan saatnya apresiasi itu berupa hadiah.


Tantangan pola asuh ganda lebih sering terjadi pada pasangan yang masih tinggal bersama dengan orang tua atau mertua, walau tak sedikit yang bisa juga bersepakat bersama. Biasanya mereka terbentur oleh pola asuh lama dan masa kini.


Setiap orang tua pasti menginginkan pola asuh terbaik untuk anaknya, begitu pula orang tua maupun mertua yang ingin juga turut serta dalam mengasuh cucu dengan pola asuh mereka yang terkadang dianggap sudah teruji.


Baca juga: Tetap Sehat Menghadapi Anak di Masa Pandemi


Salah satu contoh ketika makan bersama, orang tua masa kini cenderung memberikan ruang bagi anak untuk makan sendiri meskipun akan terlihat berantakan dan tentu saja memakan waktu lama. Namun, dengan proses tersebut sang anak dapat belajar makan sendiri. Sedangkan kakek dan nenek mungkin saja berpikir praktis dengan menyuapi cucu agar lebih cepat selesai sehingga mereka memiliki waktu lebih banyak untuk bermain bebas. Contoh lain lagi, saat anak dilarang membeli jajanan baik berupa makanan, minuman, atau bahkan mainan oleh ayah dan ibu. Tiba-tiba kakek dan nenek justru memberikan apa yang sudah dilarang oleh orang tua si anak. Seringkali mengajak kakek dan nenek untuk duduk berdiskusi bersama mencapai mufakat dengan melakukan pola asuh yang sama dengan orang tua tidaklah mudah. Oleh karena itu, cara menyiasatinya bukan dengan melarang kakek dan nenek untuk berinteraksi dengan cucunya apalagi kita sebagai anak memperdebatkan perbedaan tersebut.


Sebaiknya kita sebagai orang tua yang perlu rajin memberikan stimulasi dan sounding terhadap aturan yang berlaku dan telah disepakati bersama. Namun bagaimana jika sang anak belum cukup usia untuk memahami sebuah kesepakatan? Maka yang mudah dilakukan hanya mengurangi intens pertemuan dan terus lakukan sounding terhadap apa yang boleh dan tidak untuk anak meski ia belum begitu paham. Jika disimpulkan maka ada dua hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, yaitu:


  1. Perjelas batasan yang berlaku dari setiap aturan yang diterapkan


Tak ada salahnya jika kita sebagai orang tua tetap menyampaikan pola asuh yang kita terapkan untuk anak-anak kepada orang dewasa lain yang satu rumah dengan kita. Misal kepada kakek, nenek, paman, bibi, dan lainnya. Sampaikan saja bahwa aturan yang dibuat memiliki batasan-batasan yang jelas. Hal ini dilakukan semata demi tumbuh kembang anak yang optimal dan tentunya berkarakter. Selain itu, dapat juga mengajak orang dewasa di sekitar anak tersebut untuk menerapkan pola asuh yang sama tanpa bermaksud menggurui mereka. Informasi yang disampaikan bisa didukung oleh pakar atau ahli melalui video, buku, majalah, dan media lainnya.


  1. Berikan pemahaman mengenai alasan di balik peraturan tersebut


Pola asuh ini berkaitan dengan aturan maka sampaikan juga alasan di balik aturan itu dibuat. Umumnya, sebuah keluarga pasti saling menyayangi dan menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain. Namun, adakalanya cara yang berbeda inilah menjadi tidak satu frekuensi dan berakibat buruk terhadap si penerima. Dalam hal ini, anak tentunya yang perlu diberikan aturan sejelas mungkin dan tidak ambigu, sehingga mereka tidak kebingungan. Maka dari itu, perlu disampaikan oleh orang tua bahwa aturan ini bermanfaat untuk anak, misal aturan larangan makan permen bisa bermanfaat untuk kesehatannya. Carilah alasan yang paling mendasar dan mudah dipahami oleh orang lain.


  1. Jadilah teladan


Sebaik-baik aturan, tetap yang utama adalah teladan. Orang tua sudah semestinya menjadi role model bagi setiap perilaku anak. Maka jangan heran apabila anak tidak pernah salah dalam mengadopsi perilaku orang tua dibandingkan memahami perintahnya kepada mereka. Untuk itu, sebuah aturan yang telah disepakati bersama seharusnya mengandung unsur atau poin yang menjelaskan batasan boleh dan tidak boleh dengan jelas. Ada kalanya orang tua boleh melakukan suatu hal sedangkan anak tidak. Misalnya masih tentang larangan makan permen, orang tua terpaksa makan permen untuk menghilangkan rasa mual, sedangkan posisi anak dilarang makan permen demi kesehatan giginya yang masih dalam masa pertumbuhan. Jelaskan hal tersebut dengan kalimat dan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Biarkan anak mengkritisi aturan yang dibuat hingga ia paham akan manfaat yang berdampak pada dirinya setelah menjalankan aturan tersebut.


Pola asuh merupakan bagian terpenting untuk meraih keberhasilan dalam menerapkan kebiasaan baik dan karakter positif anak. Tanpa pola asuh, anak-anak akan mudah kehilangan arah.


Pola asuh seperti layaknya kompas yang menuntun jalan agar tak tersesat dan tetap fokus pada tujuan.


Pola asuh tak dapat beragam untuk satu keluarga sebab bisa menimbulkan kebingungan bagi anak sebagai yang menerimanya. Karena itulah, penting melakukan diskusi ringan bersama untuk mencapai mufakat terhadap pola asuh yang ingin diterapkan. Perjalanan membersamai anak bukanlah waktu yang sebentar, namun untuk tetap bisa menjaga dalam dekapan dan jalan yang sama hanyalah sekejap saja. Anak akan terus bertumbuh dan berkembang dengan pola pikir yang semakin dewasa. Tentu saja pola pikir serta kebiasaan berperilakunya merupakan hasil dari pola asuh saat ia berusia dini. Waspada double parenting sedini mungkin dan meminimalisir kemungkinan terjadi adalah langkah yang tepat.


Salam,

Metanamama


Kontributor: Syifa Achyar

Editor: Vivi Ermawati




Posting Komentar

0 Komentar