Sebagai orang tua kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak keturunan kita. Banyak di antara kita yang kerja banting tulang agar kehidupan anak-anak kita terjamin secara keuangan bahkan saat kita sudah tidak ada lagi di dunia. Kita ingin memberi warisan yang kelak bisa dikenang oleh anak kita.
Ketika pertama kali menutuskan untuk menikah, saya berkata kepada calon suami saya saat itu, bahwa jika beliau akan menikahi saya, maka beliau harus siap menjadi suami dan ayah ideologis, yang kelak akan menghiasi kehidupan keluarga kami dengan ilmu.
Menjadi orang tua, kita tidak sekedar memberikan sandang, pangan, dan papan. Anak pun membutuhkan pemenuhan kebutuhan psikis dan spiritual. Dan untuk memenuhi kebutuhan ini, mereka memerlukan sosok orang tua ideologis, yang mana orang tua akan 'menginstal' ilmu agama dan buah pemikiran positif tentang peran mereka sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial.
Saya secara pribadi ingin memberikan warisan yang sederhana dalam kata-kata namun berat ketika melakukannya, yakni bersabar. Saya mencoba 'menginstal' tentang apa yang harus dilakukan anak ketika dia menghadapi situasi yang tidak dia harapkan. Salah satunya adalah masalah keuangan keluarga.
Sejak usia anak saya batita, saya sudah mampu untuk menolak keinginan dia, jika memang keuangan keluarga tidak memungkinkan, atau jika keinginan anak itu tidak terlalu penting untuk dia. Lalu pada usia 5 tahun, saya mulai mengajak dia berbicara untuk menceritakan alasan saya menunda atau bahkan menolak keinginannya.
Saya terbiasa terbuka dengan anak tentang keuangan keluarga, di luar dia memahami atau tidak, namun sederhananya ketika saya bilang bahwa keluarga kami tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan dia, maka dia akan mengiyakan untuk menunda atau melupakan keinginannya itu. Bagaimana saya memulai 'menginstal' kata “sabar” pada anak saya?
Pertama, Never Lie. Jangan pernah berbohong pada anak-anak, karena mereka memiliki ingatan yang kuat. Saya berusaha untuk menghindari berbohong untuk alasan apa pun. Karena kebohongan akan membuat anak tidak akan lagi mengindahkan kata-kata kita. Tidak pernah berbohong menjadi modal saya untuk dipercaya ketika saya bilang, "Maaf, saat ini Bunda belum bisa membelikan Kakak jam Imoo karena Bunda belum memiliki uang untuk membelinya". Dia tidak pernah protes dan ajaibnya dia bahkan mengatakan akan membantu mengumpulkan uang untuk membeli barang yang diinginkannya.
Baca juga: Mengajak Anak Mencintai Rasulullah
Kedua, Terbuka. Seperti disebutkan di atas, bahwa saya terbuka soal keuangan pada seluruh anggota keluarga. Setiap tanggal tertentu kami akan membaginya pada pos yang sudah pasti dan pos tambahan yang penting, yakni Pos Janji. Pos janji adalah ketika kita sudah berjanji sesuatu pada salah satu anggota keluarga saat ada rejeki, maka tunaikanlah. Merasa diperhatikan kebutuhannya, merasa dianggap penting keinginannya, itu akan memperkuat ikatan cinta dalam keluarga.
Ketiga, Curhat. Memiliki anak perempuan memang memiliki keuntungan tersendiri dalam urusan berbicara. Kami akan senang untuk bertukar cerita. Dan waktu sebelum tidur menjadi masa yang paling sering digunakan untuk saling berbicara dengan lebih lembut, dari hati ke hati. Saya akan memasukkan banyak hikmah yang diambil dari aktivitas yang dilakukan sepanjang hari. Terlebih jika ada kejadian khusus seperti dia meminta sesuatu dan saya menunda atau menolak keinginannya.
Saya ajak dia untuk lebih menyelami pikiran saya dan suami sebagai orang tua, saya akan mengatakan bahwa tidak ada orang tua yang tega mengecewakan anaknya, hanya saja tidak semua juga orang tua mampu memberikan semua keinginan anak. Saya ceritakan tentang besarnya kasih sayang kami, dan betapa sedihnya kami ketika tidak mampu memenuhi keinginan dia, dan bahwa kami berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk dia.
Hasilnya? Saya diberkahi oleh Allah dengan anak berusia 7 tahun yang memiliki hati lembut, penuh perhatian dan cinta kasih pada orang tuanya.
Saya tidak memaksakan kemampuan untuk mengikuti keinginan anak, yang saya lakukan adalah mewariskan buah pikiran.
Mengajarkan anak untuk bersabar butuh proses dan butuh mental serta dukungan dari semua pihak yang ada dalam lingkaran keluarga kita.
Karena ada kalanya anak memang tidak mau tahu, pokoknya harus ada. Apakah anak saya pernah merengek? Pernah. Apakah anak saya pernah marah karena keinginannya tidak dipenuhi? Pernah. Tapi rengekan dan marahnya tidak akan mengubah keadaan, karenanya dia akan lebih cepat menerima bahwa memang dia harus bersabar untuk mendapatkan keinginannya itu.
Love yourself, love your family, and love your society.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Junani
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar