8 Jenis Parenting Style, Termasuk yang Manakah Anda? (Bag. 2)
Saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Tony Buzan, seorang ahli brain management, bahwa, “Jika hendak menuju Mars, lalu ada penyimpangan arah satu sentimeter saja di awal keberangkatan, bisa jadi pesawat tersebut tidak akan sampai di Mars. Kesalahan kecil di awal perjalanan bisa jadi akan menimbulkan penyimpangan yang sangat jauh sehingga tidak akan sampai di tujuan.”
Nah, apa maksud dari yang dikatan oleh Buzan ini? Lebih lanjut ia menjelaskan, “Jika ada penyimpangan sedikit pada pendidikan usia dini, maka pada usia dewasa penyimpangannya akan semakin lebar. Sehingga anak menjadi sosok dewasa yang jauh dari yang diharapkan.”
Seorang wanita tengah kehilangan saudara kandung satu-satunya saat ia benar-benar sangat membutuhkannya. Pada saat itu, sang wanita dinyatakan mengandung lagi dengan kondisi suami yang telah tiada. Ia begitu terpukul dengan keadaan ini, merasa tidak siap dan kecewa akan ketetapan Allah. Sang wanita merasa diperlakukan tidak adil oleh Allah. Dia tidak meminta dihadirkan makhluk baru dalam hidupnya, sedangkan seseorang yang sangat disayangi dan dibutuhkannya justru diambil paksa. Demikianlah pemikiran wanita itu.
Di tengah dukanya yang mendalam, ia memutuskan untuk mengantarkan anak dalam kandungannya pada ketiadaan. Akan tetapi, dokter yang ia kunjungi menolaknya. Akhirnya, dengan terpaksa ia mempertahankan bayi dalam kandungannya. Sepanjang masa kehamilannya, ia lalui dengan perasaan kecewa, duka dan marah yang tak berujung.
Namun, keadaan menjadi berubah tatkala bayi yang dikandungnya telah lahir ke dunia. Ia begitu jatuh hati padanya. Bayi itu pun tumbuh dengan baik dan berubah menjadi seorang gadis kecil yang cantik. Namun sayang, kebaikan parasnya tak seindah akhlaknya. Anak itu tumbuh menjadi anak yang membangkang kepada ibunya.
Sang ibu merasa kesulitan menyentuh hati putrinya. Setiap tahap usianya, sang ibu selalu mengalami kesulitan. Menjelang masuk SMP, putrinya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikannya. Melihat kenyataan ini, sang ibu melakukan berbagai upaya. Dengan berkonsultasi dan mendatangkan psikolog, psikiater, bahkan ustadz yang dianggap mampu membantu menyelesaikan permasalahannya. Akan tetapi, putrinya tetap pada pendiriannya dan menjauh dari sang ibu.
Penyesalan yang mendalam mendera perasaan sang ibu. Kini, ia hanya mampu berserah diri. Pasrah akan ketetapan Ilahi dan berharap Allah akan melembutkan hati putrinya. Kesalahan menyikapi takdir dan laku hidup yang ia jalani semasa kehamilannya harus ia tanggung sedalam ini. Seumur hidup merasa menyesal dan bersalah.
Lebih lanjut tentang seperti apa pengelompokan pola pengasuhan yang akan menjadikan terbentuknya karakter perkembangan anak adalah sebagai berikut:
4. Do-it Yourself Parent
Kelompok ini adalah orang tua yang mengasuh anaknya secara alami. Biasanya mereka aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Menyekolahkan anaknya di sekolah negeri yang tidak mahal biayanya. Mereka mendidik anak-anaknya untuk memperhatikan lingkungan dan mencintainya. Meskipun begitu, mereka juga menginginkan anaknya menjadi superkids.
Baca juga: 8 Jenis Parenting Style: Termasuk yang Manakah Anda?
Orang tua Paranoid
Yang menjadi prioritas orang tua dengan pola asuh ini adalah kenyamanan dan keselamatan anaknya. Mereka menganggap dunia luar itu penuh marabahaya, sehingga mereka ingin anaknya mampu bertahan. Demi dapat bertahan dari segala bentuk ancaman lingkungan, orang tua menginginkan anaknya dapat melindungi diri mereka sendiri. Sehingga anaknya dimasukkan ke kursus bela diri, pencak silat, judo, taekwondo dan lain-lain. Namun, mereka terlalu berlebihan dalam memandang ancaman dan bahaya. Mudah panik dan takut yang berlebihan pada berbagai situasi yang dianggap dapat mencelakakan anaknya.
Orang tua Instan
Nah, orang tua jenis ini adalah orang tua yang sukses dalam usahanya namun tidak memiliki pendidikan yang baik. Mereka menganggap kesuksesan dalam usahanya karena bakat dan kemampuan. Sehingga mereka tidak begitu mementingkan pendidikan. Mereka beranggapan bahwa, anaknya akan dapat sukses seperti dirinya tanpa harus berlelah-lelah memikirkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya seperti apa. Hal ini menjadikan mereka memilih mengambil langkah pengasuhan yang ‘berbeda’ dalam mendidik anaknya tanpa harus sekolah.
Orang tua Ngerumpi
Orang tua jenis ini sangat menyukai pergaulan. Cukup berpendidikan tapi kurang berhasil di dunia karir. Sangat memperhatikan nilai-nilai pertemanan dalam membina hubungan, namun sangat berlebihan. Sehingga mereka biasanya memiliki komunitas ngerumpi. Saking asyiknya dengan bahan rumpiannya, sampai-sampai mereka lalai dan abai pada anaknya. Aktivitas ngerumpi-nya hanya menyia-nyiakan waktu sehingga melalaikan perannya sebagai orang tua. Mereka juga mendambakan anak menjadi superkids. Namun, kebanyakan anak-anaknya tidak dapat menampilkan kemampuan dan prestasinya.
Orang tua Ideal
Orang tua ideal adalah orang tua yang hadir di sisi anaknya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Mereka sangat peduli dengan tumbuh kembang anak-anaknya. Memberikan lingkungan terbaik dan nyaman. Menjadikan rumah sebagai tempat belajar yang menyenangkan dan memfasilitasi semua kebutuhan Pendidikan anak terutama buku, alat bantu belajar seperti perangkat digital dan lain sebagainya. Menciptakan lingkungan keluarga dengan budaya ilmiah dengan diskusi dan family forum. Anak-anak mereka tumbuh dengan penuh konsep diri yang baik, kepercayaan diri yang matang dan bersemangat dalam belajar. Orang tua meyakini bahwa anak memerlukan proses dan waktu untuk menemukan kekuatan dan potensi dirinya. Anak-anaklah yang akan menemukan potensi hebat dalam dirinya, karena setiap anak itu unik dan hebat dengan potensinya masing-masing.
Sekarang, mari kita cek. Kita ada dalam tipe orang tua dengan pola asuh yang mana? Bagaimana kita menerapkan pola asuh kepada anak, itulah bentuk karakter perkembangan anak yang akan terjadi. Pola asuh adalah siapa yang paling lekat dengan diri anak. Hal ini sudah dapat dimulai sejak anak dalam kandungan, bagaimana si ibu mencurahkan perhatiannya, memberikan ASI, mendampingi bermain dan memenuhi fitrah belajarnya.
Setiap anak memang memiliki tugas perkembangan yang sama, tapi bukan berarti di kemudian hari mereka akan memiliki karakter dan kepribadian yang sama. Anak-anak tetap akan akan menjadi dirinya dengan segenap keunikan yang ada dalam diri mereka. sehingga bersikap adil terhadap semua anak bukan berarti memberi perlakuan yang sama rata. Melainkan memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan minat, kepribadian, usia dan kebutuhannya.


0 Komentar