TOILET TRAINING

“Ya ampun, baru dipel ngompol lagi,” keluh seorang Ibu.
“Musim hujan, tapi kasur basah gimana jemurnya?” batin seorang Mama.
“Kalau mau pipis di toilet, ya, Nak!” perintah seorang Bunda.
“Tadi di WC gak mau pipis, kenapa sudah pakai celana malah pipis?” tanya Emak kebingungan.




Pernah berada di situasi seperti itu? Setiap ibu pasti pernah mengalami fase anak belajar untuk mandiri buang air ke toilet. Proses yang bagi setiap anak berbeda masanya. Ada yang mudah, namun tak sedikit yang mengalami proses panjang. Tak jarang orang tua seringkali kewalahan dalam membersamai anak saat di tahap belajar yang satu ini. Sehingga mereka menyerah dan mau tak mau harus mengulang kembali proses ini dari awal menunggu waktu yang tepat.


Proses anak dalam toilet training adalah salah satu tahapan penting untuk mencapai kemandirian, karena melibatkan proses yang tidak sedikit, seperti kemampuan anak untuk melepas dan memakai pakaian sendiri, serta kemampuan membersihkan diri setelah buang air kecil maupun besar.


Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak toilet training?



Toilet training tidak bisa dipaksakan dan tidak harus dimulai sejak sedini mungkin. Masing-masing anak memiliki fase belajar yang berbeda. Jangan terapkan aturan yang berlaku pada proses toilet training anak lain untuk anak kita, karena belum tentu hasilnya sama.


Tugas orang tua adalah mengobservasi kebiasaan atau perilaku anak sehari-hari untuk menentukan ciri yang tepat, serta menunjukkan kesiapan anak untuk belajar mandiri. Tak lupa memperhatikan faktor emosional anak juga, guna menyiapkan respon sikap dari orang tua yang tepat untuk disampaikan pada anak. Pendapat orang lain bisa saja digunakan sebagai  bentuk trial and error sampai menemukan formula yang tepat, namun bukan untuk dipaksakan, apalagi berharap dengan keberhasilan yang sama.



Frustasi kadang menghampiri orang tua dalam proses membersamai anak toilet training. Tak jarang orang tua juga kerap melakukan kesalahan saat mulai membersamai anak toilet training. Bisa karena faktor start yang tidak tepat waktunya atau faktor lain seperti memberi hukuman pada anak dengan marah, bentakan atau sikap negatif lainnya dalam bentuk apapun, sehingga anak merasa terbebani dan takut. Akibatnya anak tidak senang mengikuti proses belajar ini dan cenderung menjadi malas untuk belajar mandiri buang air ke toilet.


Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali ciri-ciri dari kesiapan anak yang biasanya ditandai oleh beberapa faktor berikut:


  1. Anak tidak betah dengan popok.

  2. Anak tidak buang air kecil saat tidur di malam hari.

  3. Anak tidak nyaman dengan popok yang kotor, baik itu terkena air pipis atau tinja.

  4. Anak menunjukkan ekspresi saat akan buang air.

  5. Anak mencari tempat nyaman saat akan buang air, contoh di balik gorden atau sembunyi di pojok dinding.


Setiap anak tentu punya ciri yang bisa saja berbeda dari beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya, namun orang tua pasti akan mudah menemukan ciri yang sering dilakukan anak sebagai tanda bahwa ia siap belajar mandiri ke toilet. Lalu hal apa saja yang bisa dilakukan orang tua jika anak belum menunjukkan ciri siap belajar tersebut? Orang tua bisa mulai memberi stimulus kepada anak sebagai berikut:


  1. Kenalkan toilet beserta kegunaannya dengan tepat dan benar.

  2. Ajak anak membeli celana dalam sebagai pengganti popok. Biasanya anak suka dengan yang bergambar karakter atau kartun.

  3. Ajak anak membeli dudukan toilet khusus anak-anak agar ia bersemangat untuk belajar.

  4. Selalu sounding tentang tanda-tanda ingin buang air pada anak untuk disampaikan ke orang tua.

  5. Temani anak di toilet saat buang air sembari mengenalkan tentang alasan mengapa ia harus buang air di toilet.

  6. Ajari anak cara membersihkan area kelamin mereka dengan benar. Serta berikan alasan yang mudah dipahami anak untuk apa menjaga kebersihan alat kelamin setelah buang air.

  7. Apresiasi setiap progres yang dicapai anak sekecil apapun itu.


Proses toilet training memerlukan dukungan dari setiap anggota keluarga. Jika diperlukan, hiaslah kamar mandi atau toilet yang digunakan oleh anak semenarik mungkin. Sehingga anak merasa nyaman saat memasuki toilet. Gunakanlah stiker lucu atau jika memungkinkan, libatkan anak dalam pemilihan hiasan dinding untuk kamar mandinya.



Saat anak sudah mulai bisa berkomunikasi dan merespon apapun yang disampaikan oleh orang tua, maka komitmen. Membuat peraturan bersama anak adalah cara berkomitmen dan bersepakat untuk memulai kebiasaan baru yang telah dibuat bersama. Toilet training bisa dilakukan dengan proses yang benar jika terdapat komitmen, khususnya dari diri ibu sebagai orang tua. Kemudian komitmen bersama anak untuk memulainya.


Konsisten adalah kunci yang terakhir dan harus dilakukan agar tingkat keberhasilan semakin berpeluang besar.


Orang tua yang sudah memulai mengajarkan anak toilet training, sebaiknya konsisten agar anak tidak mengalami kebingungan. Sekalipun saat orang tua dan anak melakukan perjalanan di masa belajar ini, maka tetap lakukan dengan beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut tips toilet training selama traveling :

  1. Ajak anak buang air sebelum berangkat.

  2. Sounding anak untuk memberi tahu saat ingin buang air.

  3. Ingatkan anak berapa lama perjalanan dan berapa kali bisa istirahat untuk ke toilet.

  4. Sebaiknya tidak minum terlalu banyak, jadi secukupnya saja.

  5. Tidak makan berlebih saat perjalanan.

  6. Siapkan popok hanya untuk keadaan darurat.


Jika dalam masa proses toilet training anak mengalami sakit yang berpengaruh pada perubahan kebiasaan hariannya, maka cobalah untuk tetap konsisten semampunya. Kemungkinan terjadi kemunduran dalam pencapaiannya bukanlah sesuatu yang bermasalah. Hal ini sangat wajar terjadi, sebagai orang tua tetap berikan apresiasi dan dukungan kepada anak. Ketika anak sudah sehat menjalani kehidupan normal seperti biasa, maka kemajuan akan meningkat kembali.


Proses belajar mandiri tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagai orang tua tentu perlu persiapan yang matang untuk mulai menerapkan proses belajar tersebut. Karena kesiapan yang matang jika dilakukan dengan komitmen dan konsistensi yang benar, akan menghasilkan pencapaian kesuksesan yang memuaskan. Sabar adalah faktor pendukung yang tak boleh tertinggal selama membersamai anak kapan pun dan apapun proses belajar yang tengah dijalani. Semangat untuk semua ibu di mana pun berada.




Surat Cinta untuk Para Ibu


Dear Ibu, Mama, Bunda, Emak


Aku tahu mandiri itu perlu

Aku tahu itu sangat baik untukku

Kelak aku hidup tanpamu

Aku sudah bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu


Tapi sabarlah sedikit untukku

Temani aku belajar untuk mencapainya

Aku masih banyak tidak tahu menahu

Karena semua baru bagiku


Terima kasih untuk senyum bahagiamu

Terima kasih untuk semangat darimu

Terima kasih atas ketulusanmu

Doaku yang terbaik selalu hadir untukmu




Syifa Achyar
Editor: Vivi Ermawati


Posting Komentar

0 Komentar