Seorang anak berlari kecil menuju orang tuanya yang tengah sibuk membaca berita di laman media sosial. Anak itu menggenggam sebuah kertas yang telah ia gambar dan warnai sepenuh hati. Ia menghampiri sang ayah dengan wajah yang sumringah, terlihat senyum merekah dari bibir mungilnya.
“Yah, coba lihat aku gambar, nih!” kata sang anak sembari memperlihatkan kertas yang dibawa.
“Gambar apa?” tanya ayah datar dengan mata tak sedikit pun menoleh pada sang anak.
“Bunga, Yah. Bagus, kan?” tanya anak meyakinkan.
“Kurang penuh warnanya, terus kenapa keluar garis? Jadi gak rapi.” jawab sang ayah,
Si anak pun berlalu sambil memandang sendu gambar yang telah ia buat tanpa berbicara sepatah kata.
“Aku buat konten YouTube, Nek. Nanti nonton, ya!” pinta seorang cucu pada neneknya.
“Nenek sudah nonton, bajunya gak bagus, kenapa pakai yang itu?” tanya sang nenek.
“Kan ga apa-apa,” jawab cucu.
“Iya tapi gak bagus, coba pakai yang lebih bagus lagi ada, kan?” pinta sang nenek.
“Oke. Bagus, kan, videonya, Nek?” tanya sang cucu lagi.
“Coba buat yang lain, kurang menarik kalau cuma buat begituan, masak aja yang enak, gampang aja kok kalau masak,” jawab sang nenek dengan perintah lainnya untuk si cucu.
“Iya nanti dicoba,” jawab cucu dengan wajah sudah tak sebahagia saat memberitahu tentang konten YouTube terbarunya beberapa saat lalu.
Terlihat sepele, bukan? Namun, seringkali tanpa sadar kita telah mematahkan potensi anak hanya dengan satu atau dua kalimat kritik dari kita. Tidak ada salahnya sebuah kritik disampaikan, tapi alangkah bijak jika kritik itu dikemas dalam bentuk saran lalu disampaikan di waktu yang tepat. Jika tidak demikian, maka bersiaplah jika suatu saat ada masa di mana mereka berhenti melakukan sesuatu dan berkarya karena terlalu takut tidak dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Pagi itu, seorang guru mendapati dua orang anak murid, laki-laki juga perempuan dengan kasus berbeda, namun sama-sama “berhenti” karena merasa tidak mampu menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh sang guru. Tantangan itu hanya berupa menggambar bebas tanpa aturan dan keharusan yang ditentukan. Benar-benar sesuai imajinasi dan ekspresi masing-masing anak. Pertama, sang guru mendekati anak laki-laki dan menanyakan kenapa belum ada gambar yang tertuang di kertasnya. Lalu si anak menjawab bahwa ia tak tahu harus menggambar apa dan meminta contoh gambar terlebih dahulu. Sang guru mengernyitkan dahinya sesaat, ia merasa heran, bukankah anak usia dini memiliki banyak fantasi dan imajinasi, tapi mengapa tidak demikian dengan anak laki-laki ini.
Akhirnya sang guru bercerita sejenak untuk menggali apa yang disukai anak-anak, hingga muncullah ide dari anak bahwa ia ingin menggambar Ultraman dan dinosaurus. Siapa sangka dari seluruh gambar yang dikumpulkan dan diserahkan oleh sang guru kepada tim redaksi sebuah surat kabar, ternyata gambar dari sang anak itulah yang terpilih untuk dimuat. Saat mendengar hal itu, tidak hanya anak itu yang bahagia karena gambarnya masuk dalam surat kabar, tetapi para guru serta orang tua, dan tak lupa ada honor juga yang ia dapat. Contoh kasus ini mengingatkan bahwa betapa potensi anak tak boleh dipetakan oleh orang dewasa, terbukti setelah ditelusuri ternyata sang anak selalu diberi contoh dan tak pernah dibebaskan ketika kelas menggambar.
Berbeda dengan murid perempuan sang guru, walau ia tak berani menggambar sesungguhnya ia suka sekali menggambar. Hanya saja saat itu, sang anak mengungkapkan bahwa ia takut saat mewarnai keluar garis sehingga menjadi tidak bagus dan rapi. Setelah guru memberikan pengertian bahwa tidak apa-apa jika keluar garis karena kita sedang belajar bersenang-senang dengan gambar dan mewarnai. Guru pun bercerita bahwa tidak ada yang salah dengan warna keluar garis, selama masih berbahagia melakukannya. Karena guru percaya bahwa kelak anak bisa menilai dan merasakan sendiri seperti apa gambar dan warna yang ideal. Belajar membutuhkan proses panjang dan tak serta merta diputuskan berubah saat itu juga.
Rasa percaya diri dapat terlihat secara langsung pada diri anak di setiap kondisi. Karena kepercayaan diri akan berkaitan dengan lingkungan atau situasi yang dihadapi oleh anak.
Faktor yang membangun rasa percaya diri sangat dipengaruhi oleh seberapa besar anak menghargai dirinya sendiri yang didapat dari proses tumbuh kembangnya bersama keluarga dan lingkungan selama ini.
Karena ini berkaitan dengan bagaimana anak memaknai dirinya, kemampuannya, maka dari itu rasa percaya diri pada anak sangat penting untuk ia kelak bersikap terhadap lingkungan, mengungkapkan perasaan, dan proses mengambil keputusan.
Berikut beberapa hal penting yang diperhatikan untuk membangun kepercayaan diri anak-anak:
Kesempatan
Memulai membangun kepercayaan diri anak adalah dengan memberikan ruang seluas-luasnya untuk dia berimajinasi dan menuangkan ide. Dengarkan saat ia mengungkapkan gagasannya dengan seksama. berikan beberapa solusi jika dirasa anak membutuhkan itu dari kita. Biarkan anak berkreasi dan berkarya sesuai dengan kemampuannya saat itu. Jangan menuntut anak untuk melakukan lebih dari itu, sekalipun kita tahu bahwa sebenarnya sang anak bisa lebih baik. Cukup tunggu dan hargai proses yang ingin ia tunjukkan.
Tanggung Jawab
Setiap keputusan yang berdasarkan atas pilihan anak, berikanlah sebuah kepercayaan bahwa ia mampu melakukannya sendiri. Hindari mengintervensi anak atas pilihan yang dibuat. Cukup membersamai dalam setiap proses kegiatan yang dipilih. Biarkan anak mencari solusi dari setiap tantangan yang ia jumpai nantinya, karena tidak semua yang menurut orang tua sulit, tidak bisa diselesaikan oleh anak. Bimbing anak untuk terus berlatih dan fokus pada apa yang telah ia pilih agar semakin berkembang tanpa memaksa apalagi menekan mereka.
Apresiasi
Pujian merupakan salah satu bentuk apresiasi paling sederhana. Jangan pernah lelah untuk memuji sekecil apa pun perkembangan baik yang dicapai oleh anak. Pujian juga sebagai bentuk penghargaan dari orang tua atas usaha yang telah dilakukan oleh anak. Sesekali berikan apresiasi berupa hadiah yang anak-anak sukai dan tentunya dibutuhkan. Hadiah juga bisa dikemas dalam bentuk kejutan tanpa sepengetahuan anak terlebih dahulu. Silahkan untuk berkreasi sesuai value yang ada di keluarga dalam memberikan apresiasi kepada anak.
Satu hal yang tak kalah penting adalah fokus terhadap kelebihan anak, bukan sebaliknya. Rasa percaya diri akan terpatahkan saat orang di sekitar anak hanya menggunakan kritik kekurangan yang ia miliki. Karena anak akan fokus pada kekurangan itu jika terus menerus dibicarakan, sehingga ia kehilangan fokus pada kelebihan akan kemampuan yang sebenarnya ia miliki. Mulailah untuk berpusat pada kelebihan anak agar semakin terasah dan berkembang. Karena hal itu jauh lebih bijak dibandingkan dengan mengkritisi kelemahan yang tak bisa dipaksakan untuk diubah secepatnya menjadi kelebihan. Sejatinya setiap anak telah dianugerahkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bersyukur adalah kunci yang harus dimiliki setiap orang tua akan anugerah tersebut.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Syifa Achyar
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar