Siang ini, aku minta izin ke anak-anak untuk tidur siang. Mata sudah sangat berat. Ilyas mengikutiku ke kamar, berharap dia ikut tidur juga.
"Mik, Ilyas gak mau tidur ya, mau liat-liat ini aja." Menunjukkan majalah anak yang dibawanya masuk ke kamar.
"Mik, Mik, ini kenapa, sih?" tanyanya sambil menunjukkan cerita bergambar.
"Oh ini cerita anak ke luar angkasa naik pesawat luar angkasa," jawabku singkat.
"Ini kenapa, Mik?" Menunjuk salah satu gambar.
Mau tidak mau aku membacakan ceritanya, karena kalau hanya menjawab gambar yang ia tunjuk, pertanyaan akan terus berlanjut.
Selesai membacakan cerita ke luar angkasa, Ilyas asyik mengamati gambarnya. Gambar pesawat luar angkasa dengan latar planet-planet memang favoritnya. Berharap Ilyas bakal diserang kantuk setelah ini. Aku nyaris terlelap ketika Ilyas mengguncang bahuku pelan.
"Mik, ini apa, sih?" tanyanya menunjuk dua gambar yang mirip.
"Oh, ini disuruh cari lima perbedaan dari dua gambar ini, ditandai yang gak sama, kaya ini sama ini," jawabku sambil memberi contoh.
"Dilingkari ya, Mik, yang berbeda?"
"Iya."
Ilyas keluar dari kamar, mengambil pensilnya. Kemudian dia sibuk menyelesaikan mencari perbedaan. Ilyas anteng, semilir angin dari kipas angin membuat mataku terpejam. Belum sampai tertidur, Ilyas kembali menggoyang bahuku.
"Mik, ini udah selesai, hebatkan Ilyas." Sambil menunjukkan hasil karyanya.
"Iya, hebat. Yuk kita tidur dulu, Umik ngantuk banget," ujarku menahan jengkel.
"Enggak ah, Ilyas mau baca buku ini aja," jawabnya enteng.
Oalah bocah, gayamu mau membaca buku, yang ada minta emakmu ini untuk membacakan. Aku menggerutu dalam hati.
"Mik, Mik, ini apa, sih, maksudnya?" Sambil menunjukkan gambar telapak kaki hewan.
Nah kan bener, belum juga selesai menggerutu dalam hati, ia sudah mulai merecoki. Sabar, sabar perintah hatiku.
"Oh, ini nih disuruh mengikuti jejak kaki keledai sampai bertemu tuannya, jejak kaki keledai yang kaya begini," ujarku sambil menunjukkan gambar telapak kaki keledai.
"Oiya, Ilyas tau."
Kembali dia asik mengikuti dan mengurutkan jejak-jejak kaki yang sesuai dengan jejak kaki keledai. Kembali kantuk menyerangku. Tak lama kembali Ilyas menggoyang-goyang tanganku.
"Mik udah selesai, kalau ini apa sih, kok ada kerbau?"
Ya Allah Gusti, rasanya ingin kuterkam Ilyas. Mengapa ia tidak bisa melihat emaknya santai, tidur siang. Tapi melihat wajah polosnya yang penasaran, aku tidak tega untuk memarahinya. Sudahlah gagal total rencana tidur siang. Yang ada kepalaku makin pusing karena tidur siang yang penuh gangguan.
Baja Juga: Apa Fungsi Kulit Kita?
Teman-teman pasti sering mengalami hal yang sama seperti yang kualami. Memasak penuh gangguan, beres-beres rumah tiada berkesudahan, ingin istirahat sejenak penuh cobaan.
Tapi percayalah, hal itu tidak akan lama. Beberapa tahun lagi, pasti kita merindukan momen-momen seperti ini. Kita merindukan pertanyaan-pertanyaan konyol anak, kita merindukan rumah yang berantakan.
Seperti anak sulungku, Fakhira yang saat ini duduk di kelas dua Sekolah Dasar. Sejak kelas satu, ia sudah tidak pernah lagi meminta dibacakan buku. Jika dibelikan buku baru, ia akan segera masuk kamar, dan asyik membaca buku sendiri. Tidak pernah lagi merengek minta dibacakan buku, atau bertanya ini itu tentang isi buku.
Itulah yang membuatku selalu meluangkan waktu jika Ilyas sudah meminta dibacakan buku. Mungkin hanya dua tahun lagi momen-momen ini ada, setelah itu, Ilyas pasti seperti mbaknya. Asik dengan bukunya sendiri, tidak lagi memerlukan bantuanku untuk membacakan buku.
Salam,
Metanamama
Kontributor: Nur Hasanah
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar