Suatu hari kita akan berpisah dengan anak-anak kita. Entah mereka yang pergi untuk hidup mereka atau kita yang pergi dalam hidup mereka. Kita tak bisa melayani dan melindungi mereka dari dunia selamanya. Mengajarkan mereka untuk bisa bertahan dari dunia adalah hal terpenting yang harus kita ajarkan pada anak.
The Miracle Worker (1962), sebuah film yang memberikan saya pencerahan dan cara pandang baru terhadap pola pengasuhan, bentuk hubungan antara anak dan orang tua, keluarga besar yang terlibat di dalamnya, serta seorang guru yang mendidik anak-anak kita. Diangkat dari kisah nyata Helen Keller - seorang penulis, aktivis politik, dosen Amerika terkenal, dan pemenang Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame. Menariknya, Helen Keller adalah seorang penyandang tunarungu dan tunanetra, namun dia bisa mengatasi kekurangan fisiknya berkat bantuan dari seorang guru yang mendidiknya sejak kecil.
Pertama, hubungan James Keller dengan ayahnya. Di sini kita bisa melihat hal yang sangat umum terjadi antara dua laki-laki dewasa yang hidup dalam satu atap. James yang merasa sudah mulai dewasa sehingga ingin dipercaya dan didengar pendapatnya, sementara ayahnya menganggap bahwa James belum cukup matang untuk mengambil keputusan. Dia selalu mengatakan “Kamu jangan ikut campur, ini bukan urusanmu”. Tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya ingin James sampaikan padanya.
Kedua, Kate, ibu kandung Helen yang juga ibu tiri bagi James. Kate adalah seorang ibu yang mencintai anak-anaknya dan tidak pernah menyerah untuk membuat hidup Helen bisa seperti anak-anak normal.
Ketiga, yang merupakan konflik utama dari film ini adalah bagaimana Helen memulai pembelajaran dengan gurunya, Anne Sullivan.
Helen terbiasa dengan semua bentuk permisif dari seluruh penghuni rumah karena memiliki kekurangan. Sehingga membuat dia menjadi anak yang sangat mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. Suatu ketika, Helen menusuk jari Miss Anne dengan pena, dan saat dicegah, dia menjadi marah. Namun untuk membuat Helen tenang, ibunya memberi permen.
“Kenapa dia mendapat hadiah setelah menusukku?” tanya Miss Anne.
Dan ibunya hanya menjawab, “Aku tidak tahu ... maafkan aku.”
Ya, banyak orang tua melakukan kesalahan fatal dengan memberikan anak apa yang mereka inginkan demi membuatnya tenang, bahkan untuk sebuah kenakalan.
Anak yang memiliki behavior issue tidak membutuhkan rasa kasihan untuk membuat mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Karena kita orang tua, mudah sekali merasa bersalah ketika tidak mampu memberikan yang anak inginkan, sehingga menjadi lebih permisif untuk yang kita mampu lakukan. Padahal kenyataannya, dalam mendidik anak tidak sekedar butuh kasih sayang, namun juga butuh ketegasan.
“Tidak ada gunanya kita berusaha untuk melindungi seseorang, kita akan gagal. Satu-satunya harapan adalah mengajari mereka untuk melakukannya sendiri.” –Anne Sullivan--
Lalu, pelajaran lain yang saya dapatkan dari film ini adalah bagaimana keluarga Helen membangun hubungan dengan Miss Anne. Ya, kadang kita lupa, bahwa saat kita memilih seseorang atau bahkan sebuah lembaga pendidikan untuk mengajar anak, kita harus memiliki rasa percaya.
Baca Juga: Maaf - Warisan Pemikiran
Dalam sebuah seminar parenting yang saya ikuti, Pak Mego Husodo - seorang pembicara sekaligus psikolog, pernah menguraikan tentang apa makna kita menitipkan anak di sekolah. Diambil dari kata dasar “TITIP”, setiap hurufnya memiliki kepanjangan sebagai berikut:
T, Tega. Kita harus tega untuk menyerahkan anak kita di bawah didikan seseorang atau sebuah lembaga pendidikan. Jangan sampai ketika dititipkan tapi setiap waktu dikunjungi, setiap waktu ditelepon. Itu hanya akan mengecilkan hati anak dan melemahkan mentalnya karena rasa sedih berjauhan dengan orang tua mereka.
I, Ikhlas. Kita sadar betul bahwa anak kita dalam proses pendidikan itu akan ditempa, dan model tempaan setiap orang atau lembaga pendidikan itu bisa berbeda. Kita harus ikhlas anak kita di tempa, dibina dengan cara pengajar selama kita yakin bahwa itu tidak membahayakan anak kita.
T, Tawakal. Kita menggantungkan doa dan menitipkan anak kita kepada Allah saat mata kita tidak mampu melihatnya, saat suara kita tidak terdengar untuk menenangkannya. Hanya Allah tempat kita memohon agar anak kita terjaga dan berhasil dalam menempuh pendidikannya.
I, Ikhtiar. Kita berusaha untuk mencukupi kewajiban dan kebutuhan anak-anak kita saat masa pendidikan. Kita tidak boleh mengabaikan kebutuhan pendidik.
P, Percaya. Kita harus percaya pada orang yang mendidik anak kita. Jangan sampai ada kesalahpahaman antara orang tua dan pendidik. Dari awal akan menyerahkan anak untuk dididik seseorang, kita harus meneliti dulu bahwa orang yang kita pilih itu adalah orang yang tepat. Dan saat sudah menentukan pilihan, maka kita harus percaya dengan pendidik dalam membentuk anak-anak kita menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, keluarga, agama, dan negaranya kelak.
Bagian lain yang menarik adalah keistimewaan karakter Miss Anne, seorang pendidik yang melakukan pekerjaannya bukan sekedar karena uang, tapi memiliki tujuan. Kesungguhan dia dalam mengajar Helen yang tuna rungu dan tuna netra untuk bisa memahami kehidupan sangat luar biasa. Karekter guru yang mulai langka sekarang ini. Tidak sekedar mencintai pekerjaannya, tapi juga mencintai orang yang dididiknya dengan sepenuh hati. Dari Helen yang menjauhinya, bahkan sampai mengunci Miss Anne di kamar, lalu dengan kesabaran, Miss Anne bisa mendapat kepercayaan Helen untuk berada di posisi di mana dia bisa menyentuhnya dengan nyaman. Maka, jadilah Helen Keller seorang tokoh terkenal seperti yang kita ketahui sekarang. Dia adalah hasil dari gabungan banyak tangan yang memiliki keajaiban untuk mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. From Impossible to I’m Possible.
Miss Anne pernah berkata, “Don’t undo what I have done. The world is not easy place for anyone. To give Helen her way in everything is a lie to her. You’ve got stand between her and that lie. Don’t give in." (Jangan rusak apa yang sudah saya lakukan. Dunia bukanlah tempat mudah untuk siapa pun. Memberikan semua yang Helen inginkan adalah sebuah kebohongan. Dan Anda harus berdiri di antara Helen dan kebohongan itu. Jangan lakukan itu –menuruti semua keinginan Helen--).
Anak kita boleh dididik oleh seorang profesional yang hebat. Sekolah di lembaga terkenal yang luar biasa, mondok di pesantren yang bagus. Tapi semua itu bukanlah apa-apa ketika mereka pulang ke rumah. Tidak sedikit orang tua yang justru merusak semua pembiasaan baik dari sebuah pendidikan. Maka kita harus berada di antara cinta dan realitas. Memenuhi anak dengan cinta dan tetap mengajarkan anak untuk teguh dengan pembiasaan baik hasil dari pendidikannya.
Kontributor: Junani
Editor: Vivi Ermawati


0 Komentar