Menerima Perasaan Anak

“Diam! Berhenti menangis!”
“Jangan nangis!”
“Ssstt! Udah diem, cengeng!”

Pernah mendengar atau terasa sangat familiar dengan kalimat di atas?
Mungkinkah yang demikian termasuk perilaku mengabaikan perasaan anak?
Bukankah yang seharusnya pertama kali orang tua lakukan adalah menerima perasaan anak. Seperti apa menerima perasaan anak? Untuk apa pentingnya menerima perasaan anak?

Menerima Perasaan Anak

 

Setiap manusia terlahir dengan sebuah rasa yang tertanam di diri masing-masing. Bahkan sebelum lahir, seorang bayi mampu merespon sentuhan yang diberikan sang ibu saat mengusap perutnya yang membesar. Begitu juga saat ia lahir, sentuhan sang ibu mampu membuatnya nyaman bahkan sesekali bayi tertidur dalam dekapan. Rasa bisa dibangun melalui sebuah sentuhan dan dekapan orang yang disayang.

Memulai menerima perasaan anak sama dengan mengawalinya dengan komunikasi yang tepat. Karena bagaimanapun juga, komunikasi adalah perantara awal sebagai ungkapan atau respon dari orang tua terhadap anak yang kemudian diikuti dengan respon tindakan sebagai penguatnya. Gunakan komunikasi produktif dengan berbagai cara disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi saat itu.

Contoh kasus 1 :


“Ibu, kakiku sakit tadi jatuh,hiks…hiks...” sang anak merengek pada Ibu yang sedang sibuk mencuci piring.
“Jatuh kenapa?” tanya Ibu sembari tetap melanjutkan cuci piring.
“I-itu Bu, itu, kena mainanku, Bu,” jawab sang anak tersedu-sedu.
“Lah, salah sendiri kalau gitu, sudah sana! Ibu sibuk, gak lihat apa kamu ibu lagi ngapain?” perintah ibu tanpa sedikitpun menoleh pada sang anak.

Ketika seorang Ibu lebih sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan dengan anak. Tak jarang anak memendam perasaan yang seharusnya bisa ia sampaikan pada orangtua. Mungkin saja perasaan terpendam itu akan menumpuk jika perilaku dari orang tua tidak diubah. Mendapatkan respon orang tua yang demikian membuat anak merasa tidak diperhatikan, tidak ada tempat untuk dirinya mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakan saat itu juga. Akibatnya. bisa saja suatu hari anak meluapkan perasaannya dengan perilaku yang tidak baik hanya untuk menarik perhatian dari orang tua.

Contoh kasus 2 :

“Ayah, aku takut tidur sendiri,” kata sang anak sambil memelas pada sang ayah untuk tidak tidur sendirian.
“Takut apa sih? Sudah besar kan?”, ayah balik bertanya tanpa berpaling sedikitpun dari layar smartphone dalam genggamannya.
“Tapi aku takut Yah sendirian,” sang anak kembali menjawab dengan nada yang semakin memelas.
“Sudah sana ke kamar, tidur!” bentak sang ayah.
Sang anak hanya mampu berlalu ke kamar dengan perasaan takut bercampur sedih.

Pernah mengalami sendiri? Atau justru pernah melakukannya pada anak?
Semoga tidak ya. Terkadang tanpa disadari orang tua menganggap sesuatu yang anak takuti adalah hal sepele saja. Tanpa bertanya pada anak, seolah-olah orangtua sudah bisa menyimpulkan apa yang ingin anak sampaikan. Pada contoh yang kedua ini diharapkan orang tua dapat merespon anak dengan bertanya alasan dia takut karena apa, sebelum menyimpulkan sendiri menurut pendapat orangtua.

Menerima Perasaan Anak

 

Perasaan anak biasanya yang mudah dikenali oleh orang tua terdiri dari perasaan bahagia, sedih, takut, dan marah. Untuk memahami di setiap perasaan anak, orangtua perlu mengelola waktu yang bisa dihabiskan bersama agar bisa mengenali serta memahaminya dengan tepat. Beberapa perasaan tersebut lebih jelasnya adalah sebagai berikut :

1. Bahagia

Anak-anak yang bahagia akan mudah tersenyum, berperilaku riang dan tertawa di setiap keadaan. Mereka menyalurkannya dengan tenang dan tanpa beban. Setiap kebahagiaan memiliki tempat dan rasanya masing-masing. Jadi bisa dipastikan bahwa tiap anak pun memiliki bahagia dengan versinya sendiri.

2. Sedih

Perasaan sedih yang timbul bisa karena berbagai faktor seperti, karena kecelakaan kecil yang membuat anak cedera, pertengkaran dengan saudara atau teman, bahkan bisa saja karena rasa kecewa sebab tidak mendapatkan sesuai yang diinginkan. Rasa sedih bagi anak sangat wajar, ada yang hinggap untuk sesaat atau juga mendalam dalam jangka waktu yang lebih lama.

3. Takut

Rasa takut sangat erat kaitannya dengan rasa cemas berlebih. Cemas itu ada sisi baik yang bisa menjadikan seseorang untuk waspada. Namun ketika cemas itu berlebihan bisa mengakibatkan rasa takut yang berlebihan juga, sehingga anak mudah untuk bersikap tidak percaya diri dan kesulitan bersosialisasi. Rasa takut atau cemas anak-anak bisa berasal dari rasa tidak aman, tidak nyaman, dan tidak percaya pada lingkungan sekitar. Tak jarang anak-anak merepresentasikan rasa ini melalui khayalan atau imajinasi akan sesuatu yang ditakutinya.

4. Marah

Perasaan marah bisa timbul karena perbedaan pendapat dengan saudara, teman atau juga orang tua. Alasan anak marah bisa karena keinginannya tidak terpenuhi. Mungkin juga bisa terjadi saat memperebutkan mainan ataupun tempat bermain. Beberapa faktor mempengaruhi rasa marah ini bergejolak dalam hati anak yang bisa dibarengi dengan perilaku negatif misal memukul dan lainnya.

Respon yang bisa dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anak guna memberikan dampak positif adalah dengan menerima perasaan mereka terlebih dahulu. Caranya bisa dilakukan dengan tahapan berikut :

  1. Pendengar yang baik.
  2. Memposisikan tubuh sejajar anak.
  3. Beri sentuhan seperti memeluk, mengusap punggung tangan maupun kepala anak.
  4. Berusaha fokus dan melihat objek dari sudut pandang anak.
  5. Berikan apresiasi terhadap perilakunya.
  6. Teliti dan telusuri alasan dari rasa yang sedang ditunjukkan anak.
  7. Berikan solusi atas situasi yang sedang dihadapi anak.

Tahapan tersebut dapat disesuaikan dengan usia anak dan kondisi anak saat itu. Bisa jadi masing-masing anak berbeda tahapan yang dilakukan. Namun pada intinya, orang tua yang memberikan respon pada anak dalam keadaan apapun lebih dibutuhkan oleh anak dibandingkan hal lainnya. Salah satu cara membangun kedekatan anak dengan orang tua adalah ketika orang tua mampu menerima perasaan anak untuk kemudian dipahami dan direspon dengan tepat. Karena itulah pentingnya mengenali ragam rasa yang dimiliki anak melalui observasi yang dilakukan saat menghabiskan waktu bersama.

Suatu hari anak akan tumbuh dewasa, kelak telah memiliki kepercayaan penuh terhadap orang tua. Perasaan apapun yang sedang Ia rasa tak ragu lagi untuk ditunjukkan atau diceritakan pada orang tua. Karena pengalaman masa kecilnya mengajarkan bahwa orang tua selalu ada di setiap rasa yang dialami. Menjalin kepercayaan dengan anak mampu menghindarkannya dari sikap berbohong. Semoga pembaca termasuk bagian dari para orang tua yang mampu menerima perasaan anak, jika belum, mari lakukan mulai dari saat ini juga. Beberapa bait puisi penulis persembahkan untuk semua anak dari para orang tua.
 

Puisi Untuk Anakku

Selamat pagi sayang
Wajahmu selalu tersenyum riang
Menatap mentari yang berkilauan
Menikmati kokok si ayam jantan

Meski seringkali rasamu berubah
Percayalah bunda selalu ada
Peluk bunda erat Nak
Kelak semua baik-baik saja

Bila malam terasa mencekam
Ada tangan bunda siap menggenggam
Membantumu melewati mimpi panjang
Hingga esok datang menjelang

Saat bunda melahirkanmu
Bunda menikmati tumbuh kembangmu
Kini bunda membersamai rasamu
Mari kita bersama meramu
Sampai di ujung usiaku

 

Penulis kontributor: -SyifaAchyar-

Posting Komentar

0 Komentar