8 Jenis Parenting Style, Termasuk yang Manakah Anda? (Bag. 1)

Parenting Style adalah istilah lain untuk pola pengasuhan. Begitu banyak orang tua yang menceburkan anaknya pada potensi yang sebenarnya tidak dimiliki oleh si anak.

Di sisi lain, banyak juga orang tua yang membebaskan anaknya memilih segala hal yang diinginkan tanpa memberikan bekal dan pengarahan yang jelas. Lalu apa yang terjadi? Anak-anak justru tidak mencapai apa yang sesungguhnya mereka inginkan. Mereka tidak meraih sesuatu yang sebenarnya menjadi potensi mereka. Karena mereka terlanjur tidak memiliki kemampuan dan keterampilan di bidang yang sebenarnya adalah kekuatan dirinya.

Perkembangan anak akan optimal jika mereka mendapatkan pola pengasuhan yang tepat dari orang tuanya. Bagaimana orang tua menerapkan pola pengasuhan akan berpengaruh pada terbentuknya karakter perkembangan anak. Banyaknya pilihan parenting style jangan sampai menjadikan orang tua justru melakukan kesalahan pengasuhan.



Pola asuh sendiri memiliki definisi tentang seperti apa orang tua memperlakukan anak. Baik dalam hal mendidik, mengarahkan, membimbing, menerapkan aturan dan memberikan perlindungan kepada anak sebagai upaya yang dilakukan orang tua dalam mengantarkan anaknya mencapai proses kedewasaan. Artinya, hal ini terkait dengan interaksi yang dibangun oleh orang tua terhadap anaknya.



Perubahan zaman yang semakin canggih, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah jaminan terwujudnya keluarga yang sejahtera dan dapat mengantarkan anak menjadi dewasa. Komunikasi produktif tidak berarti tercipta dengan mengandalkan kecanggihan alat komunikasi. Yang ada, semua kemudahan yang diperoleh dari kecanggihan ini adalah kepribadian seseorang yang tidak dewasa akan sangat mudah terpengaruh dan cepat sekali berubah. Lebih cenderung pada laku hidup yang negatif bila tidak direm dengan pemahaman agama yang baik dan kondisi keluarga yang sehat.

Peradaban yang semakin maju seperti saat ini dengan segenap tuntutannya telah menyerang orang tua dan berhasil membidani lahirnya berbagai macam pola pengasuhan yang dapat memunculkan miss-education (kesalahan pengasuhan) terhadap pendidikan anak-anak.

Adapun pengelompokkan berbagai pola pengasuhan menurut Elkind (dalam Lucy Lidiawati Santioso, 2016: 16) adalah sebagai berikut:

  1. Orang tua Borju

Orang tua jenis ini biasanya adalah pasangan muda yang sukses dengan gaya hidup mewah. Mereka merawat anak-anaknya seperti merawat karir dan harta yang mereka miliki. Sehingga mereka akan memakaikan anak-anaknya segala perlengkapan yang mahal. Bentuk pencapaian mereka terhadap pengasuhan adalah sukses menjadikan anak sebagai super kids. 

Baca juga: Menerima Perasaan Anak

  1. Orang tua Intelek

Orang tua intelek akan sangat memedulikan pendidikan anak. Sering melibatkan diri dalam kegiatan anaknya. Orang tua yang menerapkan pola pengasuhan ini sangat mempercayai bahwa pendidikan yang baik adalah dasar yang paling utama atas kesuksesan hidup anak. Jika anak mereka dapat menunjukkan kemampuannya di bidang akademik, mereka juga akan menjadikan anaknya super kids. Sekolah mahal dan prestisius adalah pilihan sekolah untuk anak-anak mereka, dengan maksud membuktikan bahwa mereka sadar seutuhnya akan konsekuensi dari pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mahal.

  1. Orang tua Selebriti

Pola pengasuhan jenis ini sangat mudah dijumpai. Mereka menginginkan anak-anaknya menjadi pejuang dan siap bersaing dalam berbagai perhelatan kompetisi. Ada olimpiade sains dan matematika yang merupakan ajang bergengsi di ranah pendidikan. Ada juga kompetisi yang sedang marak dan digandrungi yaitu ajang pencarian bakat. Gelanggang seni dari menyanyi, menari, modelling, kecantikan dan masih banyak lagi. Orang tua akan bersungguh-sungguh mengupayakan dengan berbagai cara ditempuh untuk menjadikan anak sang juara. Meraih kemenangan dan menjadi bintang sejati.

Sebagai ilustrasi, mari bercermin pada kisah Michael Jackson berikut. Sejak berusia lima tahun, Jacko - sapaan akrab Michael Jackson, sudah kehabisan waktu untuk berlatih dan tampil di berbagai pertunjukkan. Dia sungguh kehilangan masa terindahnya sebagai anak-anak. Semua masalah yang ditemuinya di usia dewasa tidak terlepas dari ketidakbahagiaannya di masa kecil.




Ayahnya kerap menampar dan bahkan mencambuk Jacko saat berlatih. Tidak hanya saat berlatih sang ayah melakukan hal ini, tapi juga sesaat saat akan menaiki panggung pertunjukkan. Sang ayah beranggapan bahwa hal ini demi kebaikan dan kesuksesan anaknya. Sukses memang diraih tanpa tanggung-tanggung. Siapa yang tak kenal Jacko dengan aksi panggungnya yang memukau? Tapi sungguh, ia memiliki luka batin yang tak terobati.

Kekerasan fisik dan verbal yang diperoleh Jacko menimbulkan luka mental yang mendalam. Ia sering dikatakan big nose, bentuk bullying yang diterimanya membuat Jacko sering melakukan operasi plastik hingga berkali-kali. Kebencian Jacko atas semua perilaku sang ayah yang telah merampas kebahagiaannya tak dapat ia sembunyikan. Hal ini jelas terlihat dari surat wasiat yang dibuat Jacko. Dalam surat wasiat itu, Jacko tidak mencantumkan nama ayahnya sebagai penerima warisan. Justru 50 persen hartanya diberikan kepada simpanse kesayangannya yang bernama Bubbles. Supaya hidup simpanse ini terjamin kebutuhannya.

Dalam sebuah wawancara dengan Oprah Winfrey, Jacko pernah mengatakan bahwa, ”Saya menyukai pertunjukan, tapi ada saatnya saya hanya ingin bermain”. Ia juga mengaku bahwa, "Saya tidak pernah punya masa kecil yang normal”. Melalui kegembiraan, anak-anak akan membentuk masa depannya. Gold Medal Parent (orang tua selebritis) terlalu banyak menimbulkan bencana pada anak-anak mereka di usia dewasanya.


(Bersambung ke bag. 2)


Salam,

Metanamama


Kontributor: Triamiyati

Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

0 Komentar