Mempersiapkan Anak Perempuan Menjadi Istri dan Ibu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang salihah. ” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr)

Mendidik seorang anak perempuan zaman sekarang membutuhkan effort yang lebih dibandingkan dengan zaman dulu. Kecepatan informasi dan media sosial membuat anak sekarang cepat matang. Kemerosotan moral dan terkikisnya adat budaya ketimuran membuat orang tua ketar ketir dengan pergaulan anak-anak mereka. 


Media sosial menjadi alat kemajuan yang memudahkan informasi sekaligus senjata yang bisa berbalik menjadi hal yang mengerikan jika anak-anak tidak dibekali dengan pengetahuan cara menggunakan alat tersebut. Sudah banyak kasus, seperti terjadinya pelecehan terhadap perempuan yang dimulai dari perkenalan di dunia maya. Pergaulan bebas semakin marak dan dianggap biasa. Itulah awal mula dari kehancuran sebuah generasi, ketika para wanita di dalam generasi tersebut jauh dari nilai agama dan moral.

Karenanya, sebagai orang tua kita wajib mempersiapkan anak-anak perempuan kita untuk menjadi wanita yang siap menjadi istri dan ibu salihah yang berakhlak mulia dan kuat keaimannnya untuk berhadapan dengan zaman. Dan persiapan itu kita bisa mulai sejak dini. Apa sajakah itu?

Pertama, penanaman akhlak dan akidah yang benar dan kuat kepada anak sejak kecil. Antara lain mengenalkan konsep halal dan haram, mengajarkan untuk mencintai Rasul, mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an, membangun kebiasaan salat, berpuasa, bersedekah dan aktivitas keagamaan lainya yang bisa membuat anak jatuh cinta terhadap Islam dan mengenal kedekatan dengan Allah.

Dari Abu Syariyah (Saburah) bin Muabad Al Juhainy RA berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ajarkan salat pada anak jika berusia tujuh tahun dan pukullah jika meninggalkan salat saat berusia sepuluh tahun.” (HR Abu Daud dan Trimidzi)

Baca Juga: Bersabar - Warisan Pemikiran Bag. 1

Kedua, biasakan anak-anak perempuan kita bersentuhan dengan dunia dapur. Meskipun memasak, membersihkan rumah sebagian disebutkan bukan kewajiban seorang istri melainkan hanya sebagai bentuk sedekah kepada suaminya, namun tidak ada yang salah dengan kita mengajarkan anak-anak perempuan kita terbiasa dengan aktivitas dapur. 



Ketiga, bentuk kemandirian anak untuk melakukan kebutuhannya sendiri. Meski mungkin anak kita dilahirkan dari keluarga yang kaya raya, namun kita tidak pernah tahu Allah menakdirkan dengan siapa kelak dia akan menikah. Karenanya, kita harus mengajarkan anak kita kemandirian agar mereka menjadi sosok istri dan ibu yang tangguh bagi keluarganya kelak. 

Keempat, ajarkan anak kita bersabar dan bersyukur. Kehidupan berumah tangga tidak semanis yang dibayangkan, dan kita saat ini sedang menjalaninya. Kita sebagai orang tua tahu benar bahwa dalam berumah tangga ada pasang surut, baik dalam hubungan emosional maupun finansial. Maka kita wajib menanamkan kebiasaan untuk bersabar dan bersyukur sedari kecil dengan setiap keadaan yang dihadapi.

Berikan pemahaman sebatas kemampuan mereka untuk mencerna bahwa ada kalanya kita harus bersabar terhadap keinginan dan bersyukur atas keadaan.

Dengan begitu ketika kelak mereka menikah dan menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, mereka bisa lebih mudah untuk bersabar dan bersyukur.

Anak perempuan kita adalah cermin dari generasi setelahnya. Jika kita ingin generasi berikutnya adalah generasi yang Qur’ani, maka didik anak perempuan kita menjadi wanita yang hidupnya penuh dengan Al-Qur’an. 

Tidak mudah mendidik anak perempuan kita untuk menjadi benteng bagi keluarganya. Perlu waktu yang lama untuk membentuk karakter mereka menjadi wanita yang salihah. Membutuhkan banyak kesabaran memberikan pemahaman pada mereka tentang kodrat mereka sebagai wanita yang kelak akan menjadi istri dan ibu. Dan itu adalah tugas kita sebagai orang tua.



Salam, 
Metanamama


Kontributor: Junani
Editor: Vivi Ermawati



Posting Komentar

0 Komentar